REFLEKSI PERJALANAN DA’WAH

Desember 31, 2008

Rasanya ingin di sudut saja. Atau mengunci diri di kenyamanan kamar. Tidak berkata apa-apa. Tidak menuliskan apa-apa. Tidak mengajarkan apa-apa. Tidak menanam apa-apa. Tidak menuai apa-apa.

Buat raga sungguh melelahkan. Buat jiwa terlebih lagi. Dunia nyata dan maya sama saja. Melelahkan…
Berpapasan di jalan, muka masam penuh curiga sudah biasa. Browsing pun tak jauh berbeda. Caci maki di udara Allâh yg gratis ini hampir-hampir mengesatkan hati.

Akhir tahun yg aneh…
Hampir berbarengan habisnya masehi dan hijriah.
Dari tahun ke tahun nyaris selalu sama. Pesta pora. Bahkan setelah tampak jelas kebuasan manusia terhadap sesama manusia di layar kaca, di depan mata. Tidak menyurutkan langkah manusia untuk sekedar refreshing mengusir kepenatan zaman. Untuk kemudian terbangun esok hari, di angka tahun yg baru. Kemudian mengisinya lagi dgn kesia-siaan yg lain.
Zaman yang aneh…

Rasanya ingin berhenti saja. Luka-lukanya perih…

Tapi, alhamdulillâh, tak sengaja kutemukan tulisan Ustadz Asep Rodhi di sebuah buletin lama di tumpukan file. Seperti antiseptik. Dengan judul yg cantik:

JEMUKAH ENGKAU BERDAKWAH, YÃ RASUL?

Terimakasih ustadz, untuk nasehatnya. Untuk pembukaan artikel antum yg mengharu biru. Antum ingatkan lagi tentang kisah Rasulullâh saw di Thaif. Duduk bersimpuh di bawah pohon sambil mengusap luka.

Malu hati ini yã Rasulullãh, mengeluh di ujung tahun di tengah2 nikmat Tuhanku yg berlimpah.
Malu hati ini yã Rasulullãh, mendengar ‘rintihan’mu yang indah itu, di Thaif dulu:

Ya Allãh,

Aku mengadu pada-Mu tentang kelemahanku

Dan kurangnya daya upayaku

Juga rendahnya pamorku di hadapan manusia

Wahai Yang Mahakasihsayang

Engkaulah Pemelihara orang-orang yang lemah

Engkaulah pemeliharaku

Kepada siapa Engkau akan serahkan aku?

Apakah kepada orang asing yang menganiaya diriku?
Atau, kepada musuh yang menguasai diriku?

Selama Engkau tidak murka padaku, aku tidak perduli.

Tetapi ampunan dan kasih-Mu sangat aku butuhkan

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat,

Dari turunnya kemurkaan-Mu padaku,

Atau kutukan-Mu menimpaku

Kepada-Mu berpulang segalanya hingga Engkau ridha,

Dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan-Mu……

(terimakasihku yang tulus kepada al-akh Ibn Abd Muis, untuk tulisan-tulisannya yang menggelorakan, comment replies-nya yang bernas dan super pede kadang kocak! Semoga Allâh swt senantiasa memjagamu, akhi. Dan menambahkan ilmumu demi kebaikan)


BERKABUNG : ODE TO PALESTINE

Desember 30, 2008

Sudah lama masa berkabung ini

Ribuan liter darah sudah tumpah

Sudah biasa mata melihat

Sudah kering air mata

Kabar basi…

Mereka lemparkan isu terorisme ke hidung ummat

Kengerian adalah barang umum konsumsi sehari-hari

Kengerian tidak mengerikan lagi

Bom kami adalah teror, bom mereka adalah bela diri

Kabar basi…

Itulah isi kitab suci Holywood

Ini isi kitab suci kami:
wa makarû wa makarallâh
wallahu khairul mâkirîn

Mereka bertipu daya, dan Allâh pun bertipu daya
Dan Allâh-lah sebaik-baik pembuat tipu daya

Bersabarlah, Gaza

Sebab tak ada kemuliaan tanpa jihad

Lâ ‘izzata illâ bil jihâd !

(untuk saudara-saudaraku di luar Palestina, ingatlah sabda Rasulullâh ini: “…barang siapa tak peduli urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk ummatku..”)


MUHASABAH

Desember 28, 2008

Masih nyenyakkah tidurmu

Duhai diri

Selimut tebal itu nyaman agaknya

Demikian lelahnya dunia kau genggam

Wahai gerangan apa maknanya malam

Ooo andai kau perlakukan jiwamu seperti kau manjakan perutmu

Niscaya jauh lambung dari peraduan

(inspirasi hadits nabi: “Seandainya kalian melihat apa yang kulihat, niscaya kalian akan lebih banyak menangis…)


IBSN: GRATIS BELAJAR MUROTTAL UNTUK BLOGGER BANDUNG

Desember 28, 2008

“…wa rattilil qur’âna tartîla…” al-muzzammil: 4
(Dan bacalah qur’an itu dengan tartil)

Al-qur’an memiliki cara membaca yg unik dan cantik yg dikawal tajwidnya yg indah. Sayangnya yg banyak beredar adalah bacaan dgn ‘gaya’ tertentu seperti yg sering diperlombakan di MTQ.

Padahal cara membaca al-qur’an yg disunnahkan itu mudah sekali. Seperti yg kita sering dengar di kaset atau mp3 murattal itu. Bacaan para syaikh yg baik dan indah itu terkawal tajwid.

Sayangnya lagi, banyak orang yg hanya meniru ‘lagam’ bacaan di kaset murattalnya saja. Tanpa memperhatikan tajwidnya. Dari sekian masjid yg saya kunjungi, hampir semua bacaan imamnya masih di bawah standar ilmu tajwid. Di masjid besar sekalipun.

Insyâallâh, dgn belajar tahsin (murattal), kita dapat merasakan indah dan nikmatnya melantunkan ayat2 suci. Yang akan menarik kita untuk terus berinteraksi dengannya, dan akan menuntun kita untuk mentadabburkan dan mengamalkannya pada akhirnya.

Nah, untuk meningkatkan kualitas bacaan al-qur’an kita, ada tawaran menarik untuk blogger Bandung nih:
Belajar tahsin gratis, tis, tis !!

Syaratnya cuma satu: belajar mengajar dgn ikhlas. Hanya mencari Ridha-Nya. Lain tidak. Titik!

(tapi dari pengalaman yg sudah2, meskipun gratis, sepi peminat ! Ahh, ada apa dengan ummat ? Seddihhh….)

Bagi blogger Bandung yg berminat, silakan hubungi saya di www.silmikaffa2@gmail.com

Untuk sementara, saya hanya bisa mengajar pagi, pada hari2 tertentu, dikarenakan sudah banyak waktu terpakai. Mungkin ada di antara sahabat yg punya waktu tersesuai? Mangga!

Semoga manfaat. Amin….

(sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar dan mengajarkan al-qur’an) (al-hadits)


BANDUNGKU HANCUR SEKALI

Desember 25, 2008

Anji*g, gobl*k, edan siah, demi alloh, anji*g…!!!

Mâ syâallâh…
Siapa peduli sekarang dengan Bandung?! Bahasa kotor begitu (masih tega nambah namaNya pula) sudah biasa disemprotkan mulut orang sunda yg katanya lembut someah itu. Dari yg dewasa sampai anak2. Itu diucapkan pada saat biasa lho, bukan lagi berantem!

Entah sejak kapan mulainya kerusakan ini. Seingatku akhir tahun 80-an belum ada ini virus.

Sedihnya lagi, ga pernah ada pembahasan (apalagi penanggulangan) tentang masalah ini di forum apapun. Pemerintah kota Bandung harusnya bergerak cepat. Masalah ini tidak sepele. Bahasa mencerminkan akhlak lho!

Pernah kutegur lembut sekelompok remaja yg sedang beristirahat di masjid sambil ngobrol dihiasi kalimat2 sampah itu. Tetapi beberapa hari kemudian kembali lagi. Nasehatin lagi, kembali lagi. Sampe menghilang, nongkrong di lain tempat… Nasehatin lagi, pindah tempat nyampah lagi… Hhh…

Tapi kombinasi yg bikin tambah puyeng adalah kalau sumpah serapah itu keluar dari sopir2 angkot. Udah deh! Udah bikin macet, tambah ‘unjang anjing’, klop!

Mau yang lebih ancur? Nih kejadiannya:
di angkot sumpek, jalanan macet, sopirnya ngobrol sama calo sok akrab, asep rokok bapak di samping, rok mini si teteh ga tau diri, di sebelah tumpukan sampah yg ga keangkut! Oouhhh…

Kemudian screen berganti…

Angin sepoi-sepoi. Jalanan bersih. Di sebuah perumahan mewah tempat para pejabat Bandung dan aghniya-nya berleha-leha, sepedaku kukayuh pelan…… dipelototi satpam dengan tampang curiga!

Keciaaan deh gue…..