TURUNLAH… SAPA DHU’AFA… SEMOGA ALLÃH MELEMBUTKAN HATIMU…

Januari 17, 2009

Dari Haritsah bin Wahab ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullãh saw bersabda: “Maukah kamu kuberitahu tentang penghuni surga? Yaitu orang yang lemah dan diremehkan, tetapi kalau dia meminta sesuatu kepada Allãh, tentu dikabulkan. Dan maukah kamu kuberitahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, keras lagi sombong.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai ibu tua tukang cuci baju, apa rasanya ketika kemarin pagi engkau dihardik ibu majikanmu itu. Sakitkah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau umbar tentu engkau dipecat. Makan apa esok?

Wahai ibu majikan yang terhormat, apa rasanya membentak buruh cucimu yang seusia ibumu itu? Legakah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau tak umbar tentu tak berkurang rezekimu…

Ketika Bandung lautan sampah tak terangkut dahulu, panjang omelanmu. Tentang sistem pengelolaan yang amburadul. Tentang biaya. Tentang ini dan itu. Boleh-boleh saja… Tapi mana sapamu pada tukang sampahmu setelah badai itu.

Sahabat, mungkin kita terlalu lama di ruang kantor ber-AC. Terlalu asyik dengan perangkat canggih. Terlalu sibuk dengan bahasa akademik njelimet. Sampai-sampai pesuruh kantor lewat pun kita tak acuh. Mereka ngga ngaruh tuh.

Coba luangkan waktu sejenak untuk duduk di samping pengemis tetanggamu itu. Cium bau keringatnya. Perhatikan tekstur kulitnya yang penuh daki. Sambut bahasanya yang sederhana, bahasa orang yang bertahan hidup untuk hari ini.

Insyãallãh melembut hatimu…


PERANG DAN CINTA

Januari 11, 2009

(Oleh Anis Matta)

John Lennon adalah trauma. Lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua, dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60-an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. Maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hyppies. Bahkan ketika Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan: “If God in our side, He’ll stop the next war.”

Sejarah perang moderen adalah mimpi buruk terpanjang umat manusia. Api. Debu. Darah. Air mata. Terlalu mengerikan. Perang moderen jadi tragedi kemanusiaan karena ia lahir dari dendam, keserakahan, megalomania dan kesunyian.

Imperealisme Eropa ke timur adalah riwayat dendam dan keserakahan. Perang dunia pertama dan kedua adalah kisah keserakahan dan megalomania. Napoleon, Hitler dan Mussolini adalah legenda megalomania dan kesunyian: perang adalah cara mereka menyebar kemeranaan mereka. Sebab itu perang moderen adalah brutalisme, sadisme, kanibalisme: saat-saat panjang tanpa kasih, dari orang-orang yang menemukan kepuasan pada tetes-tetes darah dan air mata.

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Kamu suka atau tidak suka. Perang itu niscaya. Bedanya hanya dalam dua hal: siapa musuhmu, dan dengan cara apa kamu melawannya.
Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dasar batinmu yang mendalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebatilan. Angkara murka yang lahir dari kebatilan niscaya melahirkan dendam, keserakahan, megalomania, sadisme, brutalisme dan kanibalisme. Habis itu kesunyian yang panjang: dan darah yang terus mengalir tanpa kasih.

Maka begitu Hitler menyadari kekalahannya, ia bunuh diri. Darahnya dan darah korban-korbannya sama saja: merah! Tapi Khalid justru menangis karena mati di atas kasur: bukan di medan laga! Tapi mengapa revolusi Chili jadi nyanyian Pablo Nerudo? Mengapa Khalid bin Walid mengatakan: “Berjaga pada sebuah malam dingin, di tengah deru peperangan, lebih aku suka daripada berada di sisi seorang gadis di malam pengantin.”? Mengapa Abu Bakar mengatakan: “Carilah kematian agar kamu menemukan kehidupan.”?

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motifmu dan caramu berperang. Tetap ada kekerasan. Darah. Tapi cinta membuatnya jadi agung. Etis. Manusiawi.
Perang–atau revolusi adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini: Tuhan, hidup, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri. Perang bukan kebencian. Maka mereka yang tidak terlibat dalam perang tidak boleh dijadikan korban: anak-anak, orang tua, wanita, tumbuhan, hewan dan lingkungan hidup.
Jika kebutuhan biologismu tersumbat selama perang, kamu bisa jadi sadis. Atau bahkan kanibalis. Maka, prajurit perang–dalam islam–harus kembali ke keluarganya setiap empat bulan: biar jihad jadi lebih dekat kepada cinta, tidak berubah jadi benci.

Perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

***

sumber: majalah Tarbawi


A M A R A H !!!

Januari 9, 2009

Kemana kalian, wahai
para pemimpin negri Islam !!!!

Kalian berselimut tebal
di kubangan Gaza !!!!

Heiii pangeran-pangeran sialan !!!!
Bawa mati itu pesawat jet pribadi
ke kubur kalian !!!!
Tabrakkan dia
ke pesawat tempur zionis
kawan kalian !!!!

Kalian gadai minyak
dengan darah syuhada !!!!
dengan air mata ummi Palestina !!!!

BISU !!! TULI !!! BUTA !!!

Laknat, kalian !!!!!!!!!!
Terkutuk, kalian !!!!!!!!!!
Astaghfirullãh…………………..


SMS DONASI UNTUK MER-C

Januari 9, 2009

Assalãmu ‘alaykum wr.wb…

Sahabat,
doa-doa telah dan akan terus kita panjatkan untuk saudara-saudara kita di Palestina, Gaza pada khususnya.

Kalaulah sahabat memiliki kelebihan harta, mengapa tidak kita berjihad dengannya.

Saat ini tim dari Medical Emergency Rescue Commitee (Mer-C) telah diberangkatkan ke medan jihad, dengan beberapa ahlinya dipimpin oleh dr. Jose Rizal yang berpengalaman menangani korban di berbagai daerah konflik.

Sahabat cukup mengetikkan:
MERC PEDULI
kirimkan ke 7505
pulsa anda akan terpotong Rp.5000 per SMSnya.
Sahabat dapat mengirimkan SMS sebanyak sahabat mau.

Semoga Allãh swt membalas kebaikan sahabat dengan kebaikan yang lebih…amin.


NASEHAT (ALM) USTADZ RAHMAT ABDULLAH KEPADA USTADZ TIFATUL SEMBIRING

Januari 8, 2009

“Jadi, akh Tif, berda’wah itu mirip dengan pekerjaan seorang petani. Biji yang ditanam tidak cukup hanya dibenamkan ke tanah lalu ditinggalkan. Kemudian kita berharap akan kembali pada suatu hari untuk memetik hasilnya.
Mustahil itu ! Mustahil !

Tanaman itu harus disiram setiap hari, dijaga, dipelihara, dipagari, bahkan kalau tunas-tunasnya mulai tumbuh, kita harus menungguinya, sebab burung-burung juga berminat pada pucuk-pucuk segar itu.

Jadi, para mad`u (pengikut da’wah) kita harus di-ri’ayah (dirawat), ditumbuhkan, diarahkan, dinasehati sampai dia benar-benar matang. Dijaga alur pembinaannya, ditanamkan motivasi-motivasi, dibangun keikhlasan mereka, didengarkan pendapat-pendapatnya, bahkan kita perlu sesekali bepergian dengannya. Agar kita memahami betul watak kader da’wah kita sebenarnya……”
.
.
(Sahabat, tetap dalam keadaan tidak mood, aku mencari-cari hikmah di majalah-majalah tuaku. Bagaimana bisa good mood, merasakan penderitaan saudara-saudaraku di Gaza?
Tulisan di atas kutemukan di majalah Saksi edisi Juli 2005. Semoga manfaat…
Dan semoga Allãh swt melimpahkan kesabaran dan kekuatan kepada para mujahidin… Amin.
)