Love Life

Konon dahulu kala, baginda raja sangat prihatin akan dirinya. Seiring bertambahnya usia, semakin bertanya hatinya tentang dirinya. Untuk apa semua ini. Matanya melihat hampir segala. Telinganya mendengar suara-suara. Mulutnya bertitah. Hatinya berubah-ubah… Lantas, untuk apa semua ini? What is the point!

Cukuplah. Baginda kumpulkan seluruh ahli di negeri. Dari segala disiplin ilmu. Baginda berikan segala fasilitas untuk mereka di tempat peristirahatan pribadi yg asri. Semua hanya untuk satu tugas: rumuskan kehidupan manusia…

Berbilang minggu kemudian, datanglah utusan para ahli membawa hasil. Berekor-ekor keledai
berjejer dihalaman istana, mengangkut tumpukan buku tebal dalam karung. Buku tentang hidup & kehidupan manusia!

“Apa yang kalian harapkan dariku?” sabda sang raja. “Tak bisakah kalian peringkas untukku. Semoga masih ada waktu”.

Maka kembalilah para ahli bekerja siang malam. Memeras otak merumuskan hidup dalam tata tulisan.

Melesat waktu tak terhitung, datanglah utusan kehadapan. Berharap paduka kali ini berkenan. Baginda nanar menatap tumpukan buku di mejanya. Ringkik buruk keledai memang tidak seramai tempo hari.

“Tidakkah kalian lihat ubanku makin bertambah. Kakiku hampir-hampir tak sanggup lagi menopang semangatku… Sederhanakanlah!” titahnya. Tak ada kemarahan pada nadanya. Hanya prihatin. Ataukah putus asa malah?

Lebih keras lagi para ahli bekerja. Hanya kali ini mereka tanggalkan kesombongan ilmunya – ketinggian akalnya. Mereka pakai hatinya. Mereka temukan Rabbnya. Mereka jumpai kehendak-Nya…

Bukan rombongan keledai kali ini. Hanya wajah-wajah puas para pakar menghadap duli tuanku. Kemudian maju seorang di antara mereka. Dengan hikmat menyerahkan ‘tugas’ yg diembankan. Tertegun raja menerima secarik kertas. Hanya selembar kertas kecil… Tertulis di atasnya sebuah judul berhuruf besar indah:

“SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA”

Hanya beberapa kata isi di bawahnya, tertulis sama indahnya:

“Dilahirkan… Bersusah payah… Mati!”

Tak terasa berkaca-kaca mata baginda mewakili hatinya…

Rabbanä, mä khalaqta hädzä bäthilä…

Iklan