Archive for November, 2008


Ba’da isya sepulang mengajar seperti biasa aku pulang mengayuh sepeda kesayangan dengan hati senang. Ada kurang lebih 75 menit lagi jarak yg harus kutempuh untuk sampai ke rumah. Ya, kontrakan baru ini bikin betisku makin kuat saja. Rasa capek kalah oleh sifat dasarku yg periang. Di tambah lagi bayangan senyuman bayi mungilku yang selalu menyambut setiap kali abinya pulang. Kata orang, buah hatiku itu ‘amis budi’. Mudah sekali tersenyum. Like father like son, katanya. Apalagi istriku orang jawa yg pinter mijit. So, no problemo…

Bismillâhi, tawakkaltu ‘alallâh…

Earphone baru beli tempo hari lumayan membantu mengurangi bisingnya jalan raya yang bikin bete. Alhamdulillâh malam ini Bandung tidak hujan. Kunikmati angin malam yang menerpa wajah.

Sampai di perempatan Buah Batu – Soekarno Hatta, seperti hari-hari sebelumnya aku tertahan lampu merah. Tapi kali ini sepedaku paling depan. Paling kurus diantara motor2 bising itu. Berhenti dengan kaki kiri menopang di trotoar.

Kemudian, kerianganku berubah…. Yaa Rabbi….

Sungguh, melihat pengemis sudah biasa bagiku. Ikut prihatin pun selalu aku tanamkan setiap berpapasan dgn mereka. Kemudian doa meluncur untuk mereka dalam hati seikhlas mungkin.

Tapi kali ini Allâh menegurku keras-keras. Ya Rabb… pengemis renta itu… Aku menangis. Sungguh2 menangis. Air mataku tak bisa ditahan. Sesenggukan. Kumatikan MP3 ku. Earphone ku lepas. Tiba2 saja terasa hening….

Sambil terus menahan sesenggukan, aku tatap terus seorang nenek renta yang duduk berselonjor kaki di samping sepedaku. Hanya beberapa senti. Begitu dekat untuk bisa diabaikan begitu saja. Kakinya hitamnya diselonjorkan begitu saja ditanah, hampir menyentuh kakiku. Kerrudungnya dekil. Pakaiannya lebih pantas disebut kain pel butut. Keriputnya jelas terlihat kotor berisi debu jalanan. Mata butanya bergerak-gerak di dalam kelopaknya. Batok kelapa yg berisi uang receh dipegangnya erat-erat tanpa disodorkan.

Ya Allâh Pengasih Penyayang, apa maksudMu mengizinkan mata hambaMu menyaksikan pemandangan memilukan ini… Sedekat ini…

Aku teringat ibu di rumah, jauh di Jakarta. Nun Gusti…
Wahai ikhwah, ingatkah kalian pada ummi kalian kala menatap ummi si fulan yg seperti ini.
Ikhwah, bagaimana perasaan kalian kalau bunda tercinta bernasib seperti ini.
Ikhwah fillâh, andai saja kalian melihat dengan mata hati.

“Ibu…” aku coba panggil pengemis tua itu… “Ibu….” seolah aku memanggil bundaku sendiri. Air mata terus mengalir. Aku tak peduli lagi dgn tatapan aneh orang-orang di sekelilingku. Yang terbayang hanya bundaku di lampu merah memohon belas kasih.
“Ibu…,” aku tidak mengharapkan jawaban apa-apa darinya. Aku hanya ingin menyapanya dgn suara yg keluar dari hati. Kepalanya bergerak, mengarahkan telinganya mencari suara panggilanku.

“Ibu….,” Lampu hijau segera menyala kapan saja. Buru-buru aku selipkan uang sekadarnya langsung ke tangannya, tidak ke batok kelapa penadah recehnya. Beliau meraba sejenak lembaran uang itu. Memasukkannya ke lipatan bajunya. Wajahnya tampak bersyukur.

Klakson motor di belakangku memaksaku meninggalkan bundaku dgn batoknya. Sisa perjalanan terus saja aku menangis. Aku bukan laki-laki cengeng. Tetapi apa yang aku saksikan dan alami tadi benar-benar mengguncang batinku. Siapa yang tega melihat bunda tersayang merana begitu?

Kuhidupkan lagi MP3 playerku. Kali ini aku tidak berselera untuk bersenandung. Suara murottal merdu Syaikh Sa’ad al Ghomeidy melantunkan juz 26 membuat nafasku sesak. Kudengarkan dgn khusyu’. Kuserahkan seluruh hikmah kejadian ini kepada Ar Rahmân….

Teruntuk presiden Susilo Bambang Yudoyono…
Teruntuk pemimpin-pemimpin kami…
Turunlah langsung ke sini tanpa seremoni…
Semoga Allâh menuntun kalian untuk lebih mengasihi kami…..

Iklan

INDONESIANA

Imagine…!
(in random order)

Ke mini market… pulang bawa permen sebagai kembalian!
Bikin SIM, KTP, dll… enakan nembak!
Ditilang… salam damai!
Rumah sakit… miskin dilarang sakit!
Salah lewat… digaplok satpam!
Sekolah… tawuran!
Naik motor… naik trotoar!
Trotoar… milik pedagang kaki lima!
Angkot… a.k.a. preman jalanan!
Preman… jadi politikus!
Jalanan… lobang… lobang… lobang!
Dokter… sibuk balik modal!
Jodoh, rezeki, dll… ke mama Lauren, Joko Bodo, dll!
Internet… klik porno dot com!
Acara TV… made in hollywood!

WC umum… tutup hidung dan mata!
Lampu merah… aba-aba balapan!
Tembok… graffiti!
Baso… borax!
Susu bayi… racun bayi!
Ibu-ibu… ngerumpi!
Bapak-bapak… dirumpi!
Musim hujan… berenang!
Musim panas… blangwir!
Masjid… kosssong………….

(silakan tambah sendiri….)

…and that’s (not) the end…