“Aa, antum dijelek-jelekin tuh di blog sebelah!” seorang teman mengadu dgn wajah serius. Aku tersenyum saja. Ya biarin aja tho. Katanya democrazy! Gitu aja kok sewot….

Bisa jadi memang aku yg salah. Tapi bisa jadi si paham yg salah. Itulah sulitnya bahasa tulisan. Intonasi kita belum tentu terbaca orang lain.

Sudahlah…
Aku lebih tertarik dengan lika-liku dunia da’wah. Yuk, bicara da’wah…

Dalam konteks da’wah, serangan psikis sampai fisik adalah hal lumrah. Biasa saja. Bahkan, cerita Rasulullãh saw, ada kaum sebelum kita yg sampai digergaji kepalanya, tapi mereka tetap pada keimanannya. Ah, apalagi cuma dikata-katai! Biasa saja itu!

Bahkan Rasulullah sendiri merasakan ‘nikmat’nya hantaman badai di jalan da’wah pada titiknya yg paling ekstrim. Bahkan sampai detik ini, setelah wafatnya, masih terus berlangsung. Tengok saja situs2 atau blog2 penghujat islam itu. Dari yg terang2an sampai yg (sok) samar2. Dari yg nyata kasar, sampai yg ngumpet di balik kata2 ilmiah satir, dsb. Kebencian sudah menutupi keikhlasan mereka.
Kedengkian sudah tampak nyata kok.

Fokus saja pada gerakan kita. Libtighâi mardhatillâh. Dalam rangka mencari ridha-Nya. Jangan fokus pada kelompok yg tidak suka gerakan kita. Rugi! Buang2 energi. Tapi bukan berarti cuek pada mereka. Tetap waspada.

Kata orang bijak, ‘keuntungan’ setan adalah mereka bisa lihat kita, tapi kita tidak bisa lihat mereka.
So, fokus adalah kuncinya!

Kendala terbesar berbuat kebaikan adalah kebaikan itu sendiri yg tidak disukai setan. Makin besar maka makin berat bisikan ‘yuwaswisu’-nya. Lantas harus berhenti berbuat baik?? Berhenti berda’wah?? Kalah donk!! Ketawa donk setannya!! Enak aja! Justru kita yg berhak bilang “mûtû bi ghaizikum” pada setan dan agennya.

“Aa, kenapa setelah saya berjilbab, malah temen2 dan tetangga jadi sinis?” demikian suatu hari seorang akhwat mengadu. Harus dipahami dulu, kisah ini terjadi pada masa jilbab masih cukup ‘asing’. Belum menjamur seperti sekarang.

Jawabanku enteng saja:

“Yah, kalo yang kamu cari itu ridho temen atau ridho tetangga, lepas aja tuh jilbab…”

.
.
.
…..Rabbanâ, kepada-Mu sajalah gerak langkah kami tertuju…..

Iklan