Archive for Februari, 2009


Bagaimana kalau engkau adalah orang gila telanjang bulat yang kulihat pagi tadi?

Matanya liar. Auratnya jijik. Dakinya tebal. Giginya hitam. Rambutnya gimbal. Baunya busuk kemana-kemana…

Masihkah ada sudi orang mengemis pertemanan denganmu? Menjilat sepatumu. Duduk berdua, bertiga, berempat di Cafe denganmu. Tersenyum palsu untuk tanda tanganmu. Mengisi hari-harimu dengan yang kau mau. Memujimu. Memujamu.

Tidakkah pernah engkau terbangun malam. Kemudian menangisi hartamu yang melimpah. Istrimu yang cantik. Suamimu yang gagah. Anak-anakmu yang pandai enak dipandang mata. Meratapi nasibmu yang baik itu…

Tidakkah pernah terlintas di kepalamu semuanya akan meninggalkanmu. Atau ditinggalkan olehmu.
.
.
Oo yaaa, justru itu…
Hidup hanya sekali !! Maka habiskan saja !! Peduli setan dengan Tuhan !! Kenapa tidak Dia gilakan aku seperti orang gila yang katanya kau lihat tadi pagi itu, kemudian waraskan si gila itu !!

.
.
Jangan menantang, sahabatku!
Kali ini engkau berlagak bak Tuhan. Seolah kau tau apa yang terjadi kalau kau jadi dia, dan dia jadi engkau. Tukar sepatu.

Tak pernahkah kau sadar?
Bahwa kisahmu akan segera terlupakan.
Bahwa beberapa saat lagi engkau bukan siapa-siapa…
bukan apa-apa…

Iklan

S I B U K

“Barang siapa yang disibukkan oleh al Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku, dan memohon kepada-Ku, niscaya akan Kuberikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Kuberikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allãh daripada seluruh kalam selain-Nya, seperti keutamaan Allãh atas makhluk-Nya.”
(HR. At-turmudzi)

Alhamdulillãh, nulis lagi! Sibuk buangets! Dunia oh dunia 😦 …

Kali ini tetap tentang kejadian umum. Kebetulan saja terjadi di kelasku, yang muridnya ibu-ibu semua. Tau sendiri ibu-ibu khan! Ramai!

Tapi, alhamdulillãh, di kelas kami ramainya positif lho. Karena kami “ngerumpi” Qur’an 🙂
Seperti biasa, aku suka cerewet menanyakan perihal interaksi harian muridku dgn kitab sucinya.

“Sudah 1 juz hari ini, ibu-ibuku?” tanyaku pada murid-murid tersayang.

Jawabannya beragam. Tapi kesimpulannya: “Aduh, Aa, sibuk banget, belum sempat…” dan seterusnya, dan seterusnya…

Aku biasanya cuma tersenyum maklum. Tidak sibuk cari-cari kesalahan beliau-beliau. Tidak ada niat sama sekali untuk mengintimidasi (serem bgt nih bahasa) mereka. Tapi aku sedang ingin ‘berhitung’.

Oya, harus dipahami dulu, bahwa kelas kami punya motto pembangkit motivasi. Ada tiga, bertahap:

1.Tiada Hari Tanpa Al Qur’an!
2.Satu Hari Satu Juz!
3.Lafalkan, Hafalkan, Amalkan!

Seperti motto blog ini (minus motto kedua).

Dimaksudkan agar di awal-awal, para murid diharapkan setiap hari bergaul dgn al Qur’an, dgn cara membacanya dulu sekemampuan.
Setelah bertambah mahir, sudah selayaknyalah mentargetkan untuk menamatkannya dalam sebulan seperti anjuran Rasulullãh saw. Jadi, kurang lebih 1 juz perharinya.
Kalau ini sudah bisa dan biasa dilakukan, insyãallãh, motto ketiga ‘lafalkan, hafalkan, amalkan’ akan menjadi puncaknya…

Kembali ke alasan klasik di atas: sibuk

Mari berhitung! Bapak-bapak juga boleh ikutan…
Anda sendiri lho, yg tau sesibuk apa harimu–sampai-sampai tega meninggalkan al Qur’an. Jangan-jangan malah sibuk cari alasan sibuk
Yang jelas, dari 24 jam yg Allãh berikan, mustahil kita tidak bisa ‘meluangkan’ waktu untuk kalam-Nya. (padahal ada nasehat agar jangan menjadikan al Qur’an waktu luang lho! Coba baca yang
ini.

Sudah berhitung?
Nah, sekarang renungkan ‘kelakuan unik’ muridku yang satu ini: beliau menunggu mie instan-nya menghangat dengan…tilawah!
“Lumayan, dapat 2 halaman…” gitu katanya.

Oya, hampir lupa, beliau juga sudah lama berhenti nonton sinetron… 🙂