Latest Entries »

“Jadi, akh Tif, berda’wah itu mirip dengan pekerjaan seorang petani. Biji yang ditanam tidak cukup hanya dibenamkan ke tanah lalu ditinggalkan. Kemudian kita berharap akan kembali pada suatu hari untuk memetik hasilnya.
Mustahil itu ! Mustahil !

Tanaman itu harus disiram setiap hari, dijaga, dipelihara, dipagari, bahkan kalau tunas-tunasnya mulai tumbuh, kita harus menungguinya, sebab burung-burung juga berminat pada pucuk-pucuk segar itu.

Jadi, para mad`u (pengikut da’wah) kita harus di-ri’ayah (dirawat), ditumbuhkan, diarahkan, dinasehati sampai dia benar-benar matang. Dijaga alur pembinaannya, ditanamkan motivasi-motivasi, dibangun keikhlasan mereka, didengarkan pendapat-pendapatnya, bahkan kita perlu sesekali bepergian dengannya. Agar kita memahami betul watak kader da’wah kita sebenarnya……”
.
.
(Sahabat, tetap dalam keadaan tidak mood, aku mencari-cari hikmah di majalah-majalah tuaku. Bagaimana bisa good mood, merasakan penderitaan saudara-saudaraku di Gaza?
Tulisan di atas kutemukan di majalah Saksi edisi Juli 2005. Semoga manfaat…
Dan semoga Allãh swt melimpahkan kesabaran dan kekuatan kepada para mujahidin… Amin.
)

Mã syãallãh…
sulit sekali berkonsentrasi akhir-akhir ini. Sulit tidur. Sulit makan. Sulit menulis…
Nasib saudara-saudaraku di Gaza selalu membayang. Keadaan ini mirip ketika muslim Poso terbantai. Seperti saat muslim Maluku teraniaya. Atau saat tragedi Tanjung Priok. Atau saat Irak-ku hancur…
Yã Allãh tenangkan hati hamba…

Malam tadi ada perbincangan di salah satu TV swasta. Salah satu nara sumbernya adalah Ustadz Ferry Nur S.Si. Beliau adalah sekjen KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina). Salah satu organisasi di Indonesia yg paling konsern kepada permasalahan Palestina. Untuk lebih jelasnya sahabat2 dapat mengunjungi situsnya di http://www.kispa.org

Fikiranku melayang ke awal tahun 2000, awal pertama kali mengenalnya (semoga beliau masih mengenalku). Ketika itu beliau masih menjadi agen majalah islami. Beliau suka datang sendiri menitipkan majalah2nya di toko buku keluarga kami di Jakarta dulu. Seorang ustadz yg gigih dan bersahaja. Alhamdulillãh…
Senang sekali hati dapat melihat wajahnya dan mendengar suaranya, meski hanya lewat layar kaca.

Pagi harinya aku langsung googling dgn kata kunci nama beliau. Alhamdulillãh kutemukan tulisan (atau lebih tepatnya doa) terbaru beliau untuk rakyat Gaza yg beliau kirimkan untuk http://www.eramuslim.com

Doa dari seseorang yg mengerti permasalahan yg dihadapi obyek doanya. Doa nan tulus. Mengharukan namun penuh semangat…

Berikut kutuliskan ulang agar dapat kita renungkan kemudian kita amin-kan :
.
.
BERDOA DI ATAS AWAN UNTUK RAKYAT GAZA

Yã Allãh, dalam perjalanan hamba dari bandara Minangkabau menuju bandara Sukarno-Hatta, hamba membaca koran terbitan ibukota, ada berita bertulis, “Hingga hari ke tujuh invasi Israel ke Gaza lebih dari 420 orang tewas dan 2100 terluka,” kemudian lanjutan berita tersebut, “sembilan masjid telah hancur sejak serangan pertama, Sabtu (27/12/2008).

Hamba sungguh sedih dan pilu, karena hamba tak mampu mencegah kebiadaban dan keganasan Zionis Israel kepada rakyat Gaza yg merupakan ummat nabi Muhammad saw. Padahal rakyat Gaza sudah susah akibat blokade yg diterapkan Zionis Israel dan didukung antek2nya.

Yã Allãh, blokade yg berlangsung dua tahun menyebabkan rakyat Gaza sengsara, merana dan menjadi fakir miskin. Bahkan ada satu keluarga dgn delapan anak yg memakan rumput karena sudah tidak ada lagi yg akan mereka makan. 80% pabrik roti tutup, 80% wilayah Gaza dalam keadaan gelap gulita setiap hari. Saat ini suhu udara beranjak mendekati nol derajat selsius, sungguh sangat dingin sekali. 150 jenis obat sudah habis, 50% ambulan berhenti beroperasi karena tidak ada lagi bahan bakarnya.

Yã Allãh, hamba tak dapat membayangkan sedihnya para orang tua, menderitanya anak-anak, karena kondisi yg mereka hadapi begitu hebat dan berat.

Yã Allãh, hamba ingat satu riwayat yg menjelaskan bahwa salah satu doa yg mustajab adalah doa orang yg sedang safar (perjalanan).

Yã Allãh, Engkau tidak pernah tidur dan tidak pernah mengantuk.
yã Allãh, Engkau Maha Mengetahui bahwa hamba-Mu ini sedang safar dlm rangka mencari ridha-Mu, maka kabulkanlah permohonan dan doa hamba.
Yã Allãh yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Yang Maha Menguasai manusia, Pemilik alam semesta,
jatuhkan pesawat2 tempur zionis Israel, luluh lantakkan peralatan militer mereka, cerai beraikan pasukan mereka, lemahkanlah kekuatan mereka, berilah rasa gentar kepada mereka, kalahkan mereka, hinakan mereka.

Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã dzal jalãli wal ikrãm…

beri kesabaran dan ketegaran kepada rakyat Gaza, bantulah para mujahidin di sana, satukan hati mereka dlm berjuang, beri kekuatan kepada mereka, beri kemenangan kepada mereka, muliakan mereka.

Yã Allãh susahkan mereka yg telah menyusahkan ummat nabi Muhammad saw.
Yã Allãh hancurkan mereka yg telah menghancurkan ummat nabi Muhammad saw.
Yã Allãh hinakan mereka yg telah menghinakan ummat nabi Muhammad saw.

Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã Allãh, yã hayyu yã qayyûm
Yã dzal jalãli wal ikrãm…

Yã Allãh, turunkanlah pasukan khusus-Mu sebagaimana yg pernah Engkau turunkan ketika perang Badar, perang Khandak dan perang Khaibar.

Yã Allãh kabulkanlah permohonan hamba. Jangan Engkau tolak hamba karena dosa, maksiat dan pelanggaran yg pernah hamba lakukan.

Yã Allãh, hamba bertaubat kepada-Mu, hamba mohon ampun dan mohon maaf kepada-Mu.
Sampaikan salam dan shalawat hamba kepada Rasulullãh saw, keluarganya dan sahabatnya yang mulia.

Amin…..

“Aa, antum dijelek-jelekin tuh di blog sebelah!” seorang teman mengadu dgn wajah serius. Aku tersenyum saja. Ya biarin aja tho. Katanya democrazy! Gitu aja kok sewot….

Bisa jadi memang aku yg salah. Tapi bisa jadi si paham yg salah. Itulah sulitnya bahasa tulisan. Intonasi kita belum tentu terbaca orang lain.

Sudahlah…
Aku lebih tertarik dengan lika-liku dunia da’wah. Yuk, bicara da’wah…

Dalam konteks da’wah, serangan psikis sampai fisik adalah hal lumrah. Biasa saja. Bahkan, cerita Rasulullãh saw, ada kaum sebelum kita yg sampai digergaji kepalanya, tapi mereka tetap pada keimanannya. Ah, apalagi cuma dikata-katai! Biasa saja itu!

Bahkan Rasulullah sendiri merasakan ‘nikmat’nya hantaman badai di jalan da’wah pada titiknya yg paling ekstrim. Bahkan sampai detik ini, setelah wafatnya, masih terus berlangsung. Tengok saja situs2 atau blog2 penghujat islam itu. Dari yg terang2an sampai yg (sok) samar2. Dari yg nyata kasar, sampai yg ngumpet di balik kata2 ilmiah satir, dsb. Kebencian sudah menutupi keikhlasan mereka.
Kedengkian sudah tampak nyata kok.

Fokus saja pada gerakan kita. Libtighâi mardhatillâh. Dalam rangka mencari ridha-Nya. Jangan fokus pada kelompok yg tidak suka gerakan kita. Rugi! Buang2 energi. Tapi bukan berarti cuek pada mereka. Tetap waspada.

Kata orang bijak, ‘keuntungan’ setan adalah mereka bisa lihat kita, tapi kita tidak bisa lihat mereka.
So, fokus adalah kuncinya!

Kendala terbesar berbuat kebaikan adalah kebaikan itu sendiri yg tidak disukai setan. Makin besar maka makin berat bisikan ‘yuwaswisu’-nya. Lantas harus berhenti berbuat baik?? Berhenti berda’wah?? Kalah donk!! Ketawa donk setannya!! Enak aja! Justru kita yg berhak bilang “mûtû bi ghaizikum” pada setan dan agennya.

“Aa, kenapa setelah saya berjilbab, malah temen2 dan tetangga jadi sinis?” demikian suatu hari seorang akhwat mengadu. Harus dipahami dulu, kisah ini terjadi pada masa jilbab masih cukup ‘asing’. Belum menjamur seperti sekarang.

Jawabanku enteng saja:

“Yah, kalo yang kamu cari itu ridho temen atau ridho tetangga, lepas aja tuh jilbab…”

.
.
.
…..Rabbanâ, kepada-Mu sajalah gerak langkah kami tertuju…..