Tag Archive: Allah


TUHANKU TAK BUTUH DISEMBAH

Seorang teman lulusan Jerman berujar, “Aa, sorry bukan berniat apa2… Lima tahun di Eropa, saya sampai pada kesimpulan Tuhan ga ada. Saya atheis sekarang. Ma’af kalau aa tersinggung…”

Wah… Pasti niat apa-apa! Ga mungkin datang2 langsung proklamasi. Pasti UUD, Ujung Ujungnya Debat. Sesuatu yg aku tak suka. Kalau sharing doyan. Kalau sudah mentok, cukup dgn kalimat: pendapatku pendapatmu, ga akan ketemu. Saling menghormati saja.

Busyet! Lima tahun kedinginan di benua biru sudah bikin kesimpulan…
Ah, seribu tahun pun tak akan ada yg bisa memaksa seseorang untuk beriman (atau tidak beriman). Manusia selalu punya pilihan.

Tapi aku layani juga seadanya saat itu. Dialog semalaman itu, semoga bermanfaat, bagiku dan baginya. Tak perlu dibahas di sini. Hanya satu saja yg bikin aku tertarik sampai sekarang dalam diskusi kami. Yaitu tuduhannya bahwa Tuhanku butuh disembah-sembah. Temanku ini ‘melecehkan’ satu ayat populer di surat Adz-dzâriyât 56:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Menurutnya, Allâh yg Maha Segalanya itu tidak lagi menjadi Maha kalau masih ingin disembah-sembah.

Aku tersenyum mendengar argumennya itu. Tidak gusar. Wong tuduhannya salah kok. Renungi saja lanjutan ayatnya sampai habis. Jangan dipotong…
Ayat itu tidak menunjukkan kebutuhan Allâh. Ayat itu justru menjelaskan betapa butuhnya makhluq menyembah khaliqnya. Agar tak tersesat jalan. Agar tenang jiwa.

Ya!
Tuhanku tidak butuh sembahanku.
Akulah yg butuh menyembah-Nya.
Sehari saja tak kujumpa Kekasihku, hancurlah hatiku. Gersanglah jiwaku. Hampalah hidupku….!

Ahh, andai saja sahabat ini tau, betapa nikmatnya saat2 bersujud ini, tidaklah dia akan tega menuduh Tuhanku sedemikian rendahnya. Andai saja kawan ini mengerti betapa indahnya saat perjumpaan ini, pastilah enggan dia berpaling dari Wajah-Nya….

(teruntuk sahabat-sahabatku yg masih tersesat jalan, kembalilah… fa firrû ilallâh… mumpung masih ada waktu…. Fa firrû ilallâh)

Iklan

SELALU ADA JALAN KELUAR

(penulis: DR. Aid al Qarni)

Suatu masalah itu, jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar.
Itulah sunnah kehidupan yg sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yg pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhai kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yg engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah swt “A lam nasyrah laka shadrak…” (Bukankah Kami telah lapangkan dadamu). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yg berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf as terdapat obat yg menyembuhkan kebutaan dua mata Ya’qub as. Sesungguhnya dalam air dingin yg diguyur ke sekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yg diderita Ayyub as.

Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yg menghimpit Ibrahim al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa as bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus bin Matta as, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allâh al Jalîl (Yang Maha Mulia). Rasulullâh al Mukhtar (yang terpilih) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar ash Shiddiq ra, “Sungguh orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran.” Berkatalah Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, “Sesungguhnya Allâh bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.”

Katakanlah kepada orang yg tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yg telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yg ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allâh swt justru menurunkan hujan setelah manusia putus asa terhadap hujan.

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yg kemudian menaiki Ka’bah Baitullâh untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yg memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf as pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Azîz. Adalah Umar bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Makkah. Lalu dialah orang yg bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yg memotong tali pelanggaran. Lalu dia yg suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.

Allâh swt pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yg Allâh berikan setelah kesulitan? Allâh swt yg mematahkan tali pengikat orang-orang yg terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allâh swt yg akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang faqir yg selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yg gelap? Tidak ada bencana yg terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allâh swt Yang Maha Sendiri dan Satu-satunya Tempat Meminta.

Siapapun yg melazimkan istighfar, maka Allâh swt akan menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allâh swt yg akan memberinya jalan penyelesaian terhadap setiap kegundahannya. Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh, tidak ada daya dan upaya kecuali Allâh swt. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati, seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridha kepada Allâh al Jalal.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yg menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yg bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allâh swt menghilangkan bencana dengan ketulusan do’a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu memghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan putus asa terhadap apa yg telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yg abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alasan yg bisa engkau angkat, kembalilah kepada Allâh swt. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allâh swt pasti memandangmu dengan pandangan kasih sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yg tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo’alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allâh swt. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran. Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan dari Allah swt. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo’a dan meminta kepada Allah swt. Kemudian Allah swt menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita dililit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah swt memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberian-Nya. Yang Maha Memberi untuk kebahagiaan hamba-Nya. Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.

(sumber: majalah Tarbawi)

ALLAH vs ALLOH!

Provokatif?
Gimana kalau judulnya saya ganti dgn:

“MANA YG BENAR, ALLAH ATAU ALLOH?”

Wah lebih provokatif lagi!
Apalagi kalau judulnya sudah sampai menyebut siapa pemenangnya. Misalnya begini:

YANG BENAR ALLAH, BUKAN ALLOH!

Hmmm… dijamin pasukan bloggers Islam & Kristen akan ber-bondong2 datang ke sini, ke blog yg adem-ayem ini, untuk perang mulut!

Sorry, saya mengecewakan para provokator! Sebab tulisan ini hanya membahas cara penulisan lafadz Jalalah (4JJI) dalam islam(maaf ngetiknya pake hp,jadi ga ada karakter huruf arabnya. Terpaksa pake yg umum kita pake waktu sms-an: angka 4, huruf J besar dua kali,bahkan ada yg pake W, trus I. Hasilnya mirifp lafadz jalalah!).

…..pasukan bubar…..

So, mana yg ‘benar’?
Sebetulnya pemerintah sudah memberi pedoman transliterasi Arab-Latin melalui Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K, Nomor: 158 Tahun 1987 – Nomor: 0543 b/u/1987. Tapi kayaknya kurang disosialisasikan.

Menurut pedoman tersebut, penulisan latin yg benar adalah Allah bukan Alloh. Tetapi sebagian kaum muslimin mungkin ‘risih’ dgn penulisan itu yg sama dgn saudara2 kita yg nasrani (padahal nasrani diluar Indonesia ga pake Allah lho. Tanya kenapa?? Dan pemakaian kata Allah dikalangan nasrani sendiri pun masih diperdebatkan. Sebagian merasa cukup dgn Tuhan (bapa)saja. Mungkin sama alasannya, mereka risih dgn cara penulisan (dan penyebutan) yg serupa dgn saudara muslimnya).
Maka sebagian muslim menulisnya dgn huruf O, Alloh.

Kembali kepada keputusan pemerintah tadi. Sesungguhnya pedoman transliterasi itu sudah sesuai dgn kaidah ilmu tajwid, bahwa fathah atau vokal A terbaca dgn membuka mulut dgn sempurna, bukan dgn memonyongkan mulut. Adapun memonyongkan mulut diwakili dgn tanda dhammah yg menghasilkan vokal U. Sedangkan O, yg juga memonyongkan mulut, tidak diakomodasi dlm bahasa arab.

Lantas dari mana asalnya bunyi O itu? Inilah pentingnya mempelajari ilmu tajwid. Bunyi yg tampaknya seperti O ini sebetulnya adalah bunyi A (fathah) yg menebal. Istilahnya: tafkhim. Gimana teorinya? Yaitu bunyi yg dihasilkan dgn cara mengangkat pangkal lidah, sementara mulut terbuka sempurna, bukan monyong.

Bingung?
Makanya, cari guru ngaji. Talaqqi!
Rasulullâh aja bertalaqqi ke Jibril.

Sebenarnya ada beberapa huruf lagi yg terdengar menebal seperti ini, terutama pada saat fathah. Itulah huruf2 yg terdengar seperti bervokal O ditelinga kita. Contohnya huruf Ra (ingat, bukan Ro). Jadi kita akan tulis misalnya spt ini: ARRAHMÂN, bukan dgn O. Sembari seorang muslim tau membunyikan ‘ra’-nya dgn tebal.

Jadi, singkatnya, bunyi mirip O pada lafadz Allâh adalah disebabkan menebalnya huruf Lam fathah.

Sebenarnya juga ada beberapa ketentuan lain, selain huruf vokal ini. Seperti huruf yg biasa kita tulis ‘tsa’, yg seharusnya ditulis dgn huruf S dgn titik di atasnya. Dan lain-lain.

Tapi yah, namanya juga transliterasi. Yang penting orang ngerti aja. Saya aja masih suka lupa dan bingung. Apalagi ada keterbatasan karakter, terutama di mesin tik (hare gene mesin tik!)atau ponsel. Kecuali tulisan tangan, sudah bisa dipraktekan apa yg diputuskan pemerintah itu.

Met beramal sholeh, saudaraku…