Provokatif?
Gimana kalau judulnya saya ganti dgn:

“MANA YG BENAR, ALLAH ATAU ALLOH?”

Wah lebih provokatif lagi!
Apalagi kalau judulnya sudah sampai menyebut siapa pemenangnya. Misalnya begini:

YANG BENAR ALLAH, BUKAN ALLOH!

Hmmm… dijamin pasukan bloggers Islam & Kristen akan ber-bondong2 datang ke sini, ke blog yg adem-ayem ini, untuk perang mulut!

Sorry, saya mengecewakan para provokator! Sebab tulisan ini hanya membahas cara penulisan lafadz Jalalah (4JJI) dalam islam(maaf ngetiknya pake hp,jadi ga ada karakter huruf arabnya. Terpaksa pake yg umum kita pake waktu sms-an: angka 4, huruf J besar dua kali,bahkan ada yg pake W, trus I. Hasilnya mirifp lafadz jalalah!).

…..pasukan bubar…..

So, mana yg ‘benar’?
Sebetulnya pemerintah sudah memberi pedoman transliterasi Arab-Latin melalui Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K, Nomor: 158 Tahun 1987 – Nomor: 0543 b/u/1987. Tapi kayaknya kurang disosialisasikan.

Menurut pedoman tersebut, penulisan latin yg benar adalah Allah bukan Alloh. Tetapi sebagian kaum muslimin mungkin ‘risih’ dgn penulisan itu yg sama dgn saudara2 kita yg nasrani (padahal nasrani diluar Indonesia ga pake Allah lho. Tanya kenapa?? Dan pemakaian kata Allah dikalangan nasrani sendiri pun masih diperdebatkan. Sebagian merasa cukup dgn Tuhan (bapa)saja. Mungkin sama alasannya, mereka risih dgn cara penulisan (dan penyebutan) yg serupa dgn saudara muslimnya).
Maka sebagian muslim menulisnya dgn huruf O, Alloh.

Kembali kepada keputusan pemerintah tadi. Sesungguhnya pedoman transliterasi itu sudah sesuai dgn kaidah ilmu tajwid, bahwa fathah atau vokal A terbaca dgn membuka mulut dgn sempurna, bukan dgn memonyongkan mulut. Adapun memonyongkan mulut diwakili dgn tanda dhammah yg menghasilkan vokal U. Sedangkan O, yg juga memonyongkan mulut, tidak diakomodasi dlm bahasa arab.

Lantas dari mana asalnya bunyi O itu? Inilah pentingnya mempelajari ilmu tajwid. Bunyi yg tampaknya seperti O ini sebetulnya adalah bunyi A (fathah) yg menebal. Istilahnya: tafkhim. Gimana teorinya? Yaitu bunyi yg dihasilkan dgn cara mengangkat pangkal lidah, sementara mulut terbuka sempurna, bukan monyong.

Bingung?
Makanya, cari guru ngaji. Talaqqi!
Rasulullâh aja bertalaqqi ke Jibril.

Sebenarnya ada beberapa huruf lagi yg terdengar menebal seperti ini, terutama pada saat fathah. Itulah huruf2 yg terdengar seperti bervokal O ditelinga kita. Contohnya huruf Ra (ingat, bukan Ro). Jadi kita akan tulis misalnya spt ini: ARRAHMÂN, bukan dgn O. Sembari seorang muslim tau membunyikan ‘ra’-nya dgn tebal.

Jadi, singkatnya, bunyi mirip O pada lafadz Allâh adalah disebabkan menebalnya huruf Lam fathah.

Sebenarnya juga ada beberapa ketentuan lain, selain huruf vokal ini. Seperti huruf yg biasa kita tulis ‘tsa’, yg seharusnya ditulis dgn huruf S dgn titik di atasnya. Dan lain-lain.

Tapi yah, namanya juga transliterasi. Yang penting orang ngerti aja. Saya aja masih suka lupa dan bingung. Apalagi ada keterbatasan karakter, terutama di mesin tik (hare gene mesin tik!)atau ponsel. Kecuali tulisan tangan, sudah bisa dipraktekan apa yg diputuskan pemerintah itu.

Met beramal sholeh, saudaraku…

Iklan