Tiba-tiba saja wajah ganteng itu lewat di kepalaku 🙂
Kata orang, kalau kita terbangun subuh seperti itu, tandanya kerinduan sedang menyergap. Tiba-tiba saja ingin melepas beban rinduku. Sudilah kiranya sahabat menyimak…

Assalâmu ‘alaykum ayah…

Subhânallâh… cepat nian waktu berlalu. Lima tahun sudah ayah tinggalkan kami.
Semoga Allah menerangi dan melapangkan kuburmu.

Betapa rindu kami dengan candamu.
Betapa rindu kami dengan senyummu.
Banyak nian ma’af yg tak sempat terucap.

Sedikit nian masa membalas khilaf kami padamu….

………

Aku teringat SMS itu, lima Ramadhan yg lalu:

“….pulang. Ayah koma…”

Ya Allah, gumamku, inikah sakratul maut itu…
Ramadhan ini seketika bertambah syahdu…

Ini serangan stroke ayah yg ketiga. Aku memang sudah siap lahir batin apapun kehendak Ar Rahman. Apapun, kapanpun. Aku telah siap sejak stroke pertama tiga tahun sebelumnya. Aku yg merawat beliau sebulan penuh di rumah sakit ketika itu. Masa penuh pelajaran berharga bagiku tentang hidup. Kemudian stroke kedua yg tambah menguatkanku setahun kemudian. Lengkap sudah skenario Allâh untukku siap menghadapi saatnya.

Segera ke stasiun dgn hati tenang….
Terserah Allâh sajalah! kalimat yg sekarang jadi kebiasaanku. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, bertambah sayang rasa hati padamu, ayahanda. Bagaimana tidak? Engkaulah pemilik senyum paling manis dan tulus yg aku kenal. Sebebal apapun anakmu ini.
Ya Rabb… sempatkan hamba berbisik untuk yg terakhir kalinya di telinga kanan beliau… Tiba-tiba saja kereta serasa melamban.
Uhh, serasa jauh nian jarak Bandung – Jakarta!

……

RS. PELNI Petamburan sudah seperti rumah keduaku. Aku hafal benar lekuk likunya. Koridor-koridornya nya entah sudah berapa puluh kali kulewati. Tapi kali ini lain rasanya.
Kusapa suster2 yg banyak kukenal sejak tiga tahun sebelumnya. Bahkan merekapun tampak murung mendengar kabar ayah koma. Wahai ayahanda, betapa banyak orang menyayangimu. Bahkan yg baru mengenalmu kemarin sore…

Telah tiga hari ini aku tidur di selasar ICU. Kali ini ditemani adik bungsu yg ingin ikutan jaga. Penat sekali sekujur tubuh, setelah seharian menerima tamu pembesuk.
Nyenyak sekali tidurku di tikar yg kami bawa, sampai terbangun untuk makan sahur.Setelah shalat subuh, kami tidur lagi, sampai seperti biasa petugas kebersihan datang membangunkan.

“Keluarga Syaiful Amril…”, dari pintu ruang ICU suster memanggil.
“Keluarga Syaiful Amril…” sekali lagi, cukup untuk membuat penunggu yg paling ujung ikut menengok kiri kanan.
Hanya ada dua kemungkinan kalau ada panggilan seperti ini untuk keluarga pasien. Kalau tidak menjelaskan biaya obat yg diperlukan hari ini, yaa… pasien kritis. Biaya obat ayah sudah ditanggung bekas kantornya.
Jadi…
Inilah sa’atnya…

“Iya, sus, sebentar,” jawabku tenang, sambil melipat tikar. Terserah Allâh saja… Santai aku dan adikku berjalan didampingi suster. Dari jauh sudah tampak staf dokter sibuk di samping tempat tidur ayah. Mereka sudah tak sanggup, tampaknya.

Kudekati sebelah kanan ayah, adikku di kaki beliau. Tidak ada air mata saat itu. Konsentrasiku hanya untuk menuntun ayah
mengingat Sang Maha Kuasa.
Kutempelkan bibirku ke telinganya. Masih hangat. Kuhembuskan kalimat-kalimat talqin sefasih mungkin.
Kubisikan salam perpisahan dgn penuh sayang. Berharap ayah mendengar dalam komanya.

“……ayah…ayah sayang…ayah mau pulang?” kuusahakan selembut mungkin,
“…..kalau memang sudah saatnya, pulanglah… kami sudah ikhlas…insyã’allãh…”
selembut mungkin, sepenuh cintaku….

Kulanjutkan talqinku. Khusyu’….
Suster naik ke pembaringan ayah, memompa jantung beliau dengan tangan. Tindakan yg menurutku tak perlu saat itu. Tapi sudah demikian prosedurnya mungkin.

Kemudian mesin pemantau detak jantung berbunyi mencuit panjang. Garis dilayarnya sudah lurus.
Kucium wajahnya yg tampan dan bersih itu. Masih tanpa air mata. Dengan keikhlasan yg amat sangat. Dengan rasa sayang yg teramat dalam…

Innâ lillâhi, wa innâ ilaihi râji’ûn….

………

Tanah kuburan ini, aku yg pilih…
Di sebelah baratnya tampak menara masjid dikejauhan. Indah sekali… Hari menjelang maghrib. Sengaja aku pulang terakhir. Ditemani adikku yg lain yang harus memboncengku pulang nanti.

Kutatap pusara tulang punggung keluarga besar kami. Lelaki yg ulet khas sumatra barat ini. Lelaki yg memilih sendiri dgn nekad pergi merantau sejak remajanya ke ibukota ini. Yang memilih sendiri, dgn sama nekadnya, istri dari tanah sunda yg jauh dari adatnya ini. Lelaki sejati ini…
Ya Allâh… kakiku tak kuat lagi… aku bersimpuh mengangkat tangan. Memohon ampunanMu untuk lekaki ini…

Air mata tak terbendung lagi… Doaku… ya Allâh doaku, kabulkanlah… kabulkan ya rahîm…

Usapan lembut adikku dipunggung malah menambah deras air mata.
Tapi sudah waktunya pulang. Senja sudah menjelang. Pasti ibunda sedang menunggu dgn was-was di tempat parkir bersama-sama saudara2ku yg lain.

Selamat jalan ayah…

Suara takbir itu… suara takbir terindah yg pernah kudengar.
Ayah, esok lebaran pertama tanpamu…

Sampai jumpa ayah sayang……
Allãhu yarhãmuka…

(in loving memory of our beloved ayah,
SYAIFUL AMRIL SUTAN SULAIMAN
kupinjam nama gelarmu untuk cucumu …..)

Iklan