Anji*g, gobl*k, edan siah, demi alloh, anji*g…!!!

Mâ syâallâh…
Siapa peduli sekarang dengan Bandung?! Bahasa kotor begitu (masih tega nambah namaNya pula) sudah biasa disemprotkan mulut orang sunda yg katanya lembut someah itu. Dari yg dewasa sampai anak2. Itu diucapkan pada saat biasa lho, bukan lagi berantem!

Entah sejak kapan mulainya kerusakan ini. Seingatku akhir tahun 80-an belum ada ini virus.

Sedihnya lagi, ga pernah ada pembahasan (apalagi penanggulangan) tentang masalah ini di forum apapun. Pemerintah kota Bandung harusnya bergerak cepat. Masalah ini tidak sepele. Bahasa mencerminkan akhlak lho!

Pernah kutegur lembut sekelompok remaja yg sedang beristirahat di masjid sambil ngobrol dihiasi kalimat2 sampah itu. Tetapi beberapa hari kemudian kembali lagi. Nasehatin lagi, kembali lagi. Sampe menghilang, nongkrong di lain tempat… Nasehatin lagi, pindah tempat nyampah lagi… Hhh…

Tapi kombinasi yg bikin tambah puyeng adalah kalau sumpah serapah itu keluar dari sopir2 angkot. Udah deh! Udah bikin macet, tambah ‘unjang anjing’, klop!

Mau yang lebih ancur? Nih kejadiannya:
di angkot sumpek, jalanan macet, sopirnya ngobrol sama calo sok akrab, asep rokok bapak di samping, rok mini si teteh ga tau diri, di sebelah tumpukan sampah yg ga keangkut! Oouhhh…

Kemudian screen berganti…

Angin sepoi-sepoi. Jalanan bersih. Di sebuah perumahan mewah tempat para pejabat Bandung dan aghniya-nya berleha-leha, sepedaku kukayuh pelan…… dipelototi satpam dengan tampang curiga!

Keciaaan deh gue…..

Iklan