Tag Archive: da’wah


“Jadi, akh Tif, berda’wah itu mirip dengan pekerjaan seorang petani. Biji yang ditanam tidak cukup hanya dibenamkan ke tanah lalu ditinggalkan. Kemudian kita berharap akan kembali pada suatu hari untuk memetik hasilnya.
Mustahil itu ! Mustahil !

Tanaman itu harus disiram setiap hari, dijaga, dipelihara, dipagari, bahkan kalau tunas-tunasnya mulai tumbuh, kita harus menungguinya, sebab burung-burung juga berminat pada pucuk-pucuk segar itu.

Jadi, para mad`u (pengikut da’wah) kita harus di-ri’ayah (dirawat), ditumbuhkan, diarahkan, dinasehati sampai dia benar-benar matang. Dijaga alur pembinaannya, ditanamkan motivasi-motivasi, dibangun keikhlasan mereka, didengarkan pendapat-pendapatnya, bahkan kita perlu sesekali bepergian dengannya. Agar kita memahami betul watak kader da’wah kita sebenarnya……”
.
.
(Sahabat, tetap dalam keadaan tidak mood, aku mencari-cari hikmah di majalah-majalah tuaku. Bagaimana bisa good mood, merasakan penderitaan saudara-saudaraku di Gaza?
Tulisan di atas kutemukan di majalah Saksi edisi Juli 2005. Semoga manfaat…
Dan semoga Allãh swt melimpahkan kesabaran dan kekuatan kepada para mujahidin… Amin.
)

“Aa, antum dijelek-jelekin tuh di blog sebelah!” seorang teman mengadu dgn wajah serius. Aku tersenyum saja. Ya biarin aja tho. Katanya democrazy! Gitu aja kok sewot….

Bisa jadi memang aku yg salah. Tapi bisa jadi si paham yg salah. Itulah sulitnya bahasa tulisan. Intonasi kita belum tentu terbaca orang lain.

Sudahlah…
Aku lebih tertarik dengan lika-liku dunia da’wah. Yuk, bicara da’wah…

Dalam konteks da’wah, serangan psikis sampai fisik adalah hal lumrah. Biasa saja. Bahkan, cerita Rasulullãh saw, ada kaum sebelum kita yg sampai digergaji kepalanya, tapi mereka tetap pada keimanannya. Ah, apalagi cuma dikata-katai! Biasa saja itu!

Bahkan Rasulullah sendiri merasakan ‘nikmat’nya hantaman badai di jalan da’wah pada titiknya yg paling ekstrim. Bahkan sampai detik ini, setelah wafatnya, masih terus berlangsung. Tengok saja situs2 atau blog2 penghujat islam itu. Dari yg terang2an sampai yg (sok) samar2. Dari yg nyata kasar, sampai yg ngumpet di balik kata2 ilmiah satir, dsb. Kebencian sudah menutupi keikhlasan mereka.
Kedengkian sudah tampak nyata kok.

Fokus saja pada gerakan kita. Libtighâi mardhatillâh. Dalam rangka mencari ridha-Nya. Jangan fokus pada kelompok yg tidak suka gerakan kita. Rugi! Buang2 energi. Tapi bukan berarti cuek pada mereka. Tetap waspada.

Kata orang bijak, ‘keuntungan’ setan adalah mereka bisa lihat kita, tapi kita tidak bisa lihat mereka.
So, fokus adalah kuncinya!

Kendala terbesar berbuat kebaikan adalah kebaikan itu sendiri yg tidak disukai setan. Makin besar maka makin berat bisikan ‘yuwaswisu’-nya. Lantas harus berhenti berbuat baik?? Berhenti berda’wah?? Kalah donk!! Ketawa donk setannya!! Enak aja! Justru kita yg berhak bilang “mûtû bi ghaizikum” pada setan dan agennya.

“Aa, kenapa setelah saya berjilbab, malah temen2 dan tetangga jadi sinis?” demikian suatu hari seorang akhwat mengadu. Harus dipahami dulu, kisah ini terjadi pada masa jilbab masih cukup ‘asing’. Belum menjamur seperti sekarang.

Jawabanku enteng saja:

“Yah, kalo yang kamu cari itu ridho temen atau ridho tetangga, lepas aja tuh jilbab…”

.
.
.
…..Rabbanâ, kepada-Mu sajalah gerak langkah kami tertuju…..

REFLEKSI PERJALANAN DA’WAH

Rasanya ingin di sudut saja. Atau mengunci diri di kenyamanan kamar. Tidak berkata apa-apa. Tidak menuliskan apa-apa. Tidak mengajarkan apa-apa. Tidak menanam apa-apa. Tidak menuai apa-apa.

Buat raga sungguh melelahkan. Buat jiwa terlebih lagi. Dunia nyata dan maya sama saja. Melelahkan…
Berpapasan di jalan, muka masam penuh curiga sudah biasa. Browsing pun tak jauh berbeda. Caci maki di udara Allâh yg gratis ini hampir-hampir mengesatkan hati.

Akhir tahun yg aneh…
Hampir berbarengan habisnya masehi dan hijriah.
Dari tahun ke tahun nyaris selalu sama. Pesta pora. Bahkan setelah tampak jelas kebuasan manusia terhadap sesama manusia di layar kaca, di depan mata. Tidak menyurutkan langkah manusia untuk sekedar refreshing mengusir kepenatan zaman. Untuk kemudian terbangun esok hari, di angka tahun yg baru. Kemudian mengisinya lagi dgn kesia-siaan yg lain.
Zaman yang aneh…

Rasanya ingin berhenti saja. Luka-lukanya perih…

Tapi, alhamdulillâh, tak sengaja kutemukan tulisan Ustadz Asep Rodhi di sebuah buletin lama di tumpukan file. Seperti antiseptik. Dengan judul yg cantik:

JEMUKAH ENGKAU BERDAKWAH, YÃ RASUL?

Terimakasih ustadz, untuk nasehatnya. Untuk pembukaan artikel antum yg mengharu biru. Antum ingatkan lagi tentang kisah Rasulullâh saw di Thaif. Duduk bersimpuh di bawah pohon sambil mengusap luka.

Malu hati ini yã Rasulullãh, mengeluh di ujung tahun di tengah2 nikmat Tuhanku yg berlimpah.
Malu hati ini yã Rasulullãh, mendengar ‘rintihan’mu yang indah itu, di Thaif dulu:

Ya Allãh,

Aku mengadu pada-Mu tentang kelemahanku

Dan kurangnya daya upayaku

Juga rendahnya pamorku di hadapan manusia

Wahai Yang Mahakasihsayang

Engkaulah Pemelihara orang-orang yang lemah

Engkaulah pemeliharaku

Kepada siapa Engkau akan serahkan aku?

Apakah kepada orang asing yang menganiaya diriku?
Atau, kepada musuh yang menguasai diriku?

Selama Engkau tidak murka padaku, aku tidak perduli.

Tetapi ampunan dan kasih-Mu sangat aku butuhkan

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat,

Dari turunnya kemurkaan-Mu padaku,

Atau kutukan-Mu menimpaku

Kepada-Mu berpulang segalanya hingga Engkau ridha,

Dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan-Mu……

(terimakasihku yang tulus kepada al-akh Ibn Abd Muis, untuk tulisan-tulisannya yang menggelorakan, comment replies-nya yang bernas dan super pede kadang kocak! Semoga Allâh swt senantiasa memjagamu, akhi. Dan menambahkan ilmumu demi kebaikan)