Aku tidak hendak menyampah di pekaranganku sendiri. Kuusahakan kata2 kotor tidak loncat dari mulutku, baik di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Tapi apa daya…
Aku harus sampaikan kerusakan akhlaq bangsaku hanya untuk perbaikan. Toh, kalimat kotor di judul tulisan ini hanya kutipan. Semogat tidak mengotori halamanku…

Semoga bapak penghardikku malam kemarin itu diberi hidayah. Mungkin saja hatinya sedang tidak mood. Mungkin sedang stress. Sampai2 sepedaku yg hanya sedikit menghalangi jalan motornya bisa membuatnya meradang.

Kalau saja kejadian seperti ini terjadi beberapa tahun lalu padaku, niscaya bisa terjadi pertumpahan darah. Tapi tidak sekarang, di mana pengalaman sudah banyak mengajarkanku. Alhamdulillâh, sifat premanku sudah hilang. Alhamdulillâh…

Ceritanya (versiku) begini, malam kemarin itu aku menghindari sisi kanan sebuah sedan dalam kemacetan, karena tak yakin aman lewat situ. Maka aku banting stang ke kiri. Tapi tampaknya tindakanku itu tak disukai seorang pengendara motor yg merasa jalurnya kupotong.

“Goblok… kalo jalan liat-liat donk!!!” hardiknya, melotot.

Darahku cuma terasa sedikit naik. “Astaghfirullâh…” Dan dalam sekejap senyumku mengembang. Subhânallâh, enak banget kalau sudah terbiasa…

“Ma’af pak…” kataku keras2 dgn nada sopan di keramaian jalan. Biarlah. Tak penting membahas siapa yg salah.

Kulihat bara di matanya meredup. Tapi masih ada omelan pelan yg tak jelas terdengar dari mulutnya. Tidak kuperdulikan itu, kuteruskan perjalananku pulang. Biasa-biasa aja tuh… Bayangkan, kalau kujawab hardikannya dgn kalimat yg sama keras dan kotornya!

Mungkin anda menuduhku takut. Weeek! Sama manusia begitu takut??? Nyaliku ciut hanya kalau ingat Allâh! Jangan lupa, aku punya reputasi buruk di masa lalu dlm hal jotos2an. Jangan lupa juga sekarang aku mengajar di salah satu instansi TNI, yg bisa saja kucatut namanya utk sekedar nakut-nakutin. Tapi itu dosa yg lain lagi! Korupsi nama, namanya! Premanisme juga!

Alhamdulillâh, dengan air, api bisa padam.

Cerita itu sudah lewat. Tapi sumber api inilah yg bikin aku prihatin. Sedemikian parahkah sekarang akhlaq kaumku yg mayoritas muslim ini?
Emosional. Kasar. Berangasan. You name it!

Kemana bekas-bekas sujudnya?
Kemana tapak-tapak shaumnya?
Kemana jejak-jejak tilawahnya?

Apa gerangan yg diajarkan para gurunya? Para ustadznya? Ayah bundanya?

Yâ Allâh, selamatkan kami…

Saudaraku, sebagai penutup, anda renungkan satu skenario berikut ini:

Anda sedang menunggu hujan berhenti di sebuah halte bus. Air menggenang di lekukan jalan di depan halte. Sekonyong-konyong sebuah mobil yg kurang hati2 melaju kencang, menyipratkan air kubangan ketubuhmu…

Apa reaksimu, saudaraku?

Sementara yg sudah-sudah, yg aku lihat adalah tinju mengepal di udara dan caci maki…. sementara sang pengemudi ngacir, entah takut, entah tak peduli.

Hal yang tampak kecil tidaklah sepele di mata Allâh swt.
Semoga Allâh menyelamatkan bangsa ini….
Amin.

Iklan