Ada yang tau? Dari mana asal kata KORAN? Mungkin juga dari QUR’AN yang artinya bacaan ya?
Tapi bukan itu yang ingin kubahas. Bukan tentang asal kata. Tapi tentang hasil pertandingannya…. Maka sang pemenangnya adalah KORAN!

Jangan marah dulu wahai para supporter Qur’an. Sebagai komentator, aku harus netral dan objektif…..

Ingatkah ketika ‘Aisyah RA ditanya ttg pribadi Rasululläh SAW, beliau menjawab bahwa akhlaq Rasululläh itu ya al-qur’an itu.
Rasululläh adalah Al-qur’an berjalan. Tapi rupanya cerita begini ngga banyak pengaruh buat kita tuh!

Menyedihkan…

Bayangkan, manusia paling berpengaruh bagi peradaban manusia, oleh ummatnya sendiri cuma dijadikan tokoh idola kayak idola-idola yang lain. Bahkan dikalahkan! Cuma jadi nama sakral doang. “Ooh…, nabi Muhammad… iya, itu nabi kami…” udah, gitu doang…
Bahkan mbah jambrong dibahas lebih panjang dari itu, meski reputasinya menyeramkan karena profesinya yg tukang santet…

Atau artis anu, yang lagunya itu lebih dihafal dari qul yã ayyuhal kãfirün sekalipun…

“Buktikan donk!!! Nuduh ajah…” gitu khan?
Okey lah…

Bukankah Rasululläh tercinta itu cerminan al-qur’an? Tempatnya kebaikan? Tapi coba hitung, berapa lama tiap harinya kita bercengkerama dgn al-qur’an. Ini dalam sehari lho! Lalu, coba bandingkan dgn betapa lengketnya kita dgn koran (plus kawan2nya: TV, radio, mp3, internet, surat cinta, novel, cerpen, buku2 berat karangan orang hebat, dst… dst… dst…)

Menyedihkan…….

Al-qur’an cuma jadi pajangan. Lebih menyedihkan lagi, kalo lagi sedih hati, baru deh dicari. Dicari beneran! saking lamanya disimpan, sampe lupa naruhnya di mana…
Dicari!
Udah ketemu, Yasin lagiii, Yasin lagi yg dibaca! Kapan mau khatamnya!? Rasululläh nyuruhnya khatamin al-qur’an minimal sebulan sekali. Bukan Yasinin sekali-sekali.

Sudah mafhum bahwa Rasululläh itu berkualitas tinggi. Sudah mafhum bahwa beliau berakhlaq al-qur’an. Tapi masih ada juga yg tega bilang begini: “ah, itu khan nabi…”
Firman Alläh ta’ala: “laqad käna fï rasulillähi uswatun hasanah.” (sungguh telah ada pada rasulilläh itu contoh yg baik), artinya, Rasululläh itu untuk diteladani. Bukan untuk di-ah,itu khan-
i.

“Aku tinggalkan 2 perkara, yg apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: al-qur’an dan sunnahku,” sabda beliau yg terkenal itu…

Ya Rasulalläh, shadaqta, keduanya sudah kami tinggalkan. Seperti keluhanmu 15 abad lalu yg Alläh abadikan di surah Al-furqon ayat 30, “Wa qälar rasülu rabbi innä qaumittakhadzü hädzal qur’äna mahjürä.” (dan rasul berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mengabaikan al-qur’an ini”)
Maka benarlah engkau Rasululläh, bahwa kami telah tersesat…

Saudaraku, belumkah tiba saatnya bagi kita untuk menyediakan WAKTU WAJIB bersama al-qur’an setiap hari. Jangan jadikan dia sebagai WAKTU LUANG, yang manakala urusan dunia menyibukkan kita, akan tertinggallah dia, disebabkan tak adanya waktu luang…

Mari….ketik di ponsel, wallpaperkan di komputer, tempel di dinding kamar, tulis di buku agenda — tanam di hati:

TIADA HARI TANPA AL-QUR’AN!

…..sampai pada saat Al-qur’an vs Koran dimenangkan oleh Al-qur’an…..

“Allähummarhamnä bil qur’än…”

Iklan