Tag Archive: hikmah


Dari Haritsah bin Wahab ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullãh saw bersabda: “Maukah kamu kuberitahu tentang penghuni surga? Yaitu orang yang lemah dan diremehkan, tetapi kalau dia meminta sesuatu kepada Allãh, tentu dikabulkan. Dan maukah kamu kuberitahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, keras lagi sombong.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai ibu tua tukang cuci baju, apa rasanya ketika kemarin pagi engkau dihardik ibu majikanmu itu. Sakitkah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau umbar tentu engkau dipecat. Makan apa esok?

Wahai ibu majikan yang terhormat, apa rasanya membentak buruh cucimu yang seusia ibumu itu? Legakah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau tak umbar tentu tak berkurang rezekimu…

Ketika Bandung lautan sampah tak terangkut dahulu, panjang omelanmu. Tentang sistem pengelolaan yang amburadul. Tentang biaya. Tentang ini dan itu. Boleh-boleh saja… Tapi mana sapamu pada tukang sampahmu setelah badai itu.

Sahabat, mungkin kita terlalu lama di ruang kantor ber-AC. Terlalu asyik dengan perangkat canggih. Terlalu sibuk dengan bahasa akademik njelimet. Sampai-sampai pesuruh kantor lewat pun kita tak acuh. Mereka ngga ngaruh tuh.

Coba luangkan waktu sejenak untuk duduk di samping pengemis tetanggamu itu. Cium bau keringatnya. Perhatikan tekstur kulitnya yang penuh daki. Sambut bahasanya yang sederhana, bahasa orang yang bertahan hidup untuk hari ini.

Insyãallãh melembut hatimu…

PREMAN MALIOBORO, RIWAYATMU DULU

(based on true story)

Awal 80-an, Avin sudah berkenalan dgn dunia hitam di Jakarta. Masih kelas 3 SMP! Aneh. Rasanya Broken home pun tidak. Lingkungan, fifty-fifty. Otak, lumayan cemerlang. Akumulasi apakah ini? Masih harus diselidiki oleh ahlinya.

Satu episode drama keluarga (yg bisa dibikin kisah tersendiri) membawa Avin muda bertualang di Jogjakarta. Jogja 80-an yg masih innocent, menurutnya yg memang belum pernah sekalipun ke negeri onthel itu.

Turun dari kereta ekonomi yg lusuh dan kumuh, stasiun Jogja jadi hotel pertamanya. Dia bingung mau kemana dan bagaimana. Tengah malam begini! Uang di dompet tinggal beberapa ribu plus receh.

Lelah dan lapar, dia berbaring di bangku stasiun berbantal ransel hijau tentara. Tidak bisa tidur, terbayang pertengkaran seru dgn ayahnya pagi tadi, yang menyebabkannya nekad kabur. Ada rasa sesal. Tetapi hatinya yg keras menjaga gengsinya.

Nasib pula yg membawanya berkenalan dgn Roni malam itu. Anak kuliahan Jakarta yg sedang berlibur. Avin tidak merasa terganggu dgn perkenalan itu. Malah senang ditemani orang yg lebih faham keadaan. Hanya aneh saja, anak kuliah gaul sama anak SMP.

Sebentar saja mereka sudah terlibat obrolan akrab. Tampaknya Roni takjub dgn kenekadan anak ingusan teman barunya itu. Dia menawarkan Avin ikut bermalam di rumah kenalannya di Jogja ini.

Justru inilah awal perkenalan Avin dengan dunia preman Jogjakarta. Malioboro khususnya. Di tengah-tengah isu “petrus”( penembak misterius) yg terkenal itu! Masa di mana para bromocorah ketakutan diburu peluru misterius.

Kemudian sampailah keduanya di rumah teman Roni tersebut, di bilangan pasar Ngasem. Rumah tua model jaman Belanda. Rumah tempat berkumpulnya para preman kala itu, sebelum dan setelah beroperasi. Angker! Dengan pentolannya yg bule ganteng, peranakan Jawa-Belanda. Mas Budi, sangat dihormati di wilayah ini. Wajahnya yg bule sama sekali tidak mengesankan kepremanannya. Sama sekali tidak angker. Cocoknya jadi bintang film malah.

Sekejap saja Avin sudah bisa menyesuaikan diri di habitat yg menyeramkan ini. Apalagi dgn perlindungan mas Budi bule, yg agaknya menyukai remaja kencur ini. Mas Budi bahkan memberinya nama panggilan khusus: si kecil.

Avin tinggal cukup lama di markas itu, bahkan sampai masa liburan Roni habis, ia masih tinggal di Jogja untuk beberapa bulan. Waktu yg cukup untuk mengajarkannya trik dan intrik premanisme. Si Kecil menyimpan semuanya di memori otaknya. Tersimpan baik-baik bersama ajaran-ajaran ustadznya. Bersama alkohol vodka kesukaannya. Bersama asap menyengat ganja kegemarannya. Bersama pelajaran sekolahnya. Bersama nasehat-nasehat kehidupan yg berkelebatan lewat di depannya. Campur aduk, menunggu kedewasaan berfikirnya berkembang.

Dia rasakan nasib pengrajin kulit yg harus membayar upeti bulanan uang ‘keamanan’. Dia rasakan pula pengusaha etnis tertentu merogoh dompetnya dalam-dalam, demi mencari selamat. Dia rasakan anak istri sang preman yg was-was menunggu sang sumber nafkahnya pulang. Dia rasakan siksaan rekannya yg tertangkap oleh oknum aparat, untuk kemudian bebas (kalau mujur) berpreman ria lagi nantinya. Di sela itu, dia rasakan pula bundanya di Jakarta yg pasti menantinya dgn was-was di rumah…..
Kehidupan keras itu, anehnya, malah melembutkan perasaannya.
Dia dewasa sebelum waktunya.

Siapakah mereka? Siapakah kita?

Demikian setiap hari hatinya menasehati. Setiap kali jiwanya terguncang melihat dan mengalami hal-hal baru di rimba rantau.

Avin ingat benar pesan mas Budi kepada seluruh komunitas preman yg hadir di markas suatu hari, pesan yg aneh ditelinganya dulu:

“Awas kalian… Jangan ada yg ngasih cimeng (ganja), minuman, atau apapun (maksudnya yg memabukan) sama si kecil ya! Kalo ada yg ngasih, hadapi aku!” katanya tegas. Tampak sekali wibawanya.

Dulu, Avin menggerutu dongkol mendengar pidato singkat itu. “Wong semua itu gue suka kok,” sungutnya dalam hati. Kalau lagi pengen, dia diam-diam cari sendiri.

Tapi kini, kalimat itu selalu menghantui hatinya. Tak terbayang, seorang ahli maksiat menasehati orang lain untuk tidak bermaksiat seperti itu. Apakah karena rasa itu ada? Terselip di antara debu-debu maksiat? Apa yg menyebabkannya terkalahkan?
Benarkah dunia ini tentang pertempuran antara kebaikan versus keburukan?

Bahkan sampai pada saat pamitan pulang ke Jakarta pun mas Budi tetap menampakkan rasa sayangnya kepada Avin. Seperti tak tega melepas anaknya pergi.

“Sudahlah, Cil… Tinggal di sini aja sama aku. Ta’ carikan sekolah. Bikin KTP sini. Biar aku yg hubungi orang tuamu nanti…”

Dengan berat hati Avin menolak tawaran sayang itu. Bagaimanapun, dia punya orang tua yg harus dimohonkan ampunnya. Terutama bunda tersayangnya yg tentunya sedang gundah hati. Dunia gelap ini justru telah menerangi fikirannya.

….Avin tua terjaga dari lamunannya. Suara penyiar berita TV masih menjelaskan topik utama hari ini. Tentang kepolisian yg sedang gencar-gencarnya menangkapi preman-preman yg meresahkan itu.

Avin tersenyum getir. Dua puluh tahun lebih sudah dia menunggu perbaikan ini.

Sejak dulu pun dia tidak pernah menyalahkan mas Budi dan yg sejenisnya. Juga tidak menyalahkan aparat. Dia hanya menyesali sistem di negeri ini yg amburadul. Hampir di segala bidang.

Sinyal kuat sudah dinyalakan kepolisian. Semoga konsisten.
Avin mematikan televisinya. Matanya sudah lelah, harfiah dan istilah.
Teriring doa untuk negeri,

semoga Allah swt memudahkan…

(nama-nama tokoh di atas disamarkan demi privasi)

SELALU ADA JALAN KELUAR

(penulis: DR. Aid al Qarni)

Suatu masalah itu, jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar.
Itulah sunnah kehidupan yg sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yg pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhai kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yg engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah swt “A lam nasyrah laka shadrak…” (Bukankah Kami telah lapangkan dadamu). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yg berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf as terdapat obat yg menyembuhkan kebutaan dua mata Ya’qub as. Sesungguhnya dalam air dingin yg diguyur ke sekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yg diderita Ayyub as.

Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yg menghimpit Ibrahim al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa as bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus bin Matta as, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allâh al Jalîl (Yang Maha Mulia). Rasulullâh al Mukhtar (yang terpilih) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar ash Shiddiq ra, “Sungguh orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran.” Berkatalah Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, “Sesungguhnya Allâh bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.”

Katakanlah kepada orang yg tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yg telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yg ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allâh swt justru menurunkan hujan setelah manusia putus asa terhadap hujan.

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yg kemudian menaiki Ka’bah Baitullâh untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yg memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf as pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Azîz. Adalah Umar bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Makkah. Lalu dialah orang yg bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yg memotong tali pelanggaran. Lalu dia yg suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.

Allâh swt pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yg Allâh berikan setelah kesulitan? Allâh swt yg mematahkan tali pengikat orang-orang yg terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allâh swt yg akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang faqir yg selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yg gelap? Tidak ada bencana yg terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allâh swt Yang Maha Sendiri dan Satu-satunya Tempat Meminta.

Siapapun yg melazimkan istighfar, maka Allâh swt akan menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allâh swt yg akan memberinya jalan penyelesaian terhadap setiap kegundahannya. Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh, tidak ada daya dan upaya kecuali Allâh swt. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati, seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridha kepada Allâh al Jalal.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yg menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yg bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allâh swt menghilangkan bencana dengan ketulusan do’a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu memghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan putus asa terhadap apa yg telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yg abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alasan yg bisa engkau angkat, kembalilah kepada Allâh swt. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allâh swt pasti memandangmu dengan pandangan kasih sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yg tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo’alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allâh swt. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran. Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan dari Allah swt. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo’a dan meminta kepada Allah swt. Kemudian Allah swt menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita dililit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah swt memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberian-Nya. Yang Maha Memberi untuk kebahagiaan hamba-Nya. Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.

(sumber: majalah Tarbawi)