“Aduh, Aa, gimana ya… anak saya susah bgt diatur… Ngebantaaah melulu… Bla,bla,bla……”

Kira2 demikian keluhan ibu2 yg sering kudengar.

Aku bukan ahlinya dalam bidang ini. Tapi apa harus jadi ahli dulu untuk punya anak? Apa harus selalu konsul ke ahli? Jangan-jangan bumi kekurangan anak gara2 banyak yg tidak mampu bayar ahli. Wah!
(kecuali ahlinya gratis, dibayar pemerintah. Ni baru asyiks!)

Keluhan2 spt ibu2 di atas seharusnya bisa dihindari sejak dini. Bahkan katanya sejak dalam kandungan.

Masalahnya, panduan2 mendidik anak yg banyak beredar di negri tercinta ini, yg notabene mayoritas muslim, malah panduan ala barat. Ironis…

Bayangkan…kita pernah menelan mentah2 teori yg menyatakan bahwa bayi dalam kandungan yg sering diperdengarkan musik klasik semisal Beethoven, Bach, Chopin, dll, akan menjadi anak yg cerdas!

Maka ber-duyun2lah ibu2 membeli mp3 Beethoven and the gang… Walahhh!

Kalaupun benar alunan nada tertentu bisa mempengaruhi si jabang bayi, kenapa tidak diperdengarkan lantunan ayat2 suci al qur’an saja. Kalau belum bisa tilawah sendiri, kan banyak kaset atau mp3 murottal. Ga kalah tuh dgn si Bach! Sejuta kali lebih hebat malah!

Untuk panduan anak, dari yg kecil sampai remaja, kita merujuk pada pendidikan anak ala barat. Tak sedikitpun mencari tau dan menyelidiki, bagaimana Rasulullâh saw mendidik anak.

Maka tak aneh kalau anak remaja putri kita mengeluh kepanasan dgn berjilbab. Sebab sejak kecil tak diajarkan dan dilatih berhijab. Tak aneh pula remaja putranya menggandeng mesra si putri nikmat bermaksiat.

Wahai bunda muslimah…ayah juga…lihatlah sekeling…
Tak ngeri kah kita melihat kelakuan generasi baru kita ini. Pulang larut. Jingkrak2 di depan grup musik kegemarannya. Tak peduli panggilan adzan. Rokok di bibirnya. Kata2 kasar menghiasi mulutnya. Geng motor tempat kumpulnya….
Bunda bisa tambahkan sendiri black list itu. Tapi jangan seperti yg sudah2. Hanya melihat, kemudian menenangkan dan membela diri dgn kalimat: “ah, anakku tak akan seperti itu.” Karena orang tua si fulan yg membunuh temannya sendiri tempo hari itu pun pernah bilang seperti itu: “anakku tak mungkin berbuat jahat.”

Sahabatku, sudah saatnya kembali ke islam. Dari keluarga sendiri dulu. Sejak dini. Karena peradaban di mulai dari situ. Didik mereka dgn islam. Nasehati mereka dgn islam. Gerakkan mereka dgn islam.
Bukankah al qur’an mengingatkan “kû anfusakum wa ahlîkum nârâ…”

Saudaraku, pemandangan di sebuah masjid tempo hari membuatku haru. Seorang ayah khusyu’ shalat malam menangis mengadu pada Tuhannya. Sang ibu di shaf belakang berlinang air mata lirih membaca al qur’an. Sambil sesekali melirik sayang pada putri cilik mereka yg lelap tertidur di sampingnya… Gerangan apa yang bunda bisikkan di sela-sela do’a untuk buah hati tersayang…

Aku hanya berani curi-curi pandang pada keluarga kecil sakinah ini. Berharap kelak mencontoh rutinitas menakjubkan mereka ini. Di sela do’a kutambahkan:

“Yâ Rahmân… tambahkan jumlah keluarga seperti ini… berkahi negeriku dgn hamba-hambaMu yg seperti ini… Yâ Allâh kasihani Indonesia kami… Sayangi kami, yâ Rahmân…”

Iklan