Masjid itu tampak bersih. Tamannya terawat baik. Tempat wudhunya wangi cairan pengharum segar. Lantainya, tanpa karpet, mengkilat rutin dipel berpengharum pula. Ustadz Heri kerjakan itu semua sendirian ba’da shalat subuh berjama’ah nyaris tiap hari. Hampir setahun dia berjuang di sini.

Ya, komplek perumahan lumayan mewah ini memang penghuninya lumayan royal menggelontorkan dana untuk masjid mungil kebanggaan mereka ini.
Masa’ sih kalah sama masjid perumahan sebelah saingan mereka itu. Apalah artinya iuran yg puluhan ribu itu dibandingan dgn gaji mereka yg jutaan itu.
Jadilah masjid ini enak dipandang mata dalam heningnya.

Ustadz Heri sangat merindukan hari Jum’at, idul fitri, idul qurban atau hari-hari besar islam lainnya di sini. Hanya pada hari-hari itu saja masjid ini tampak ramai. Selebihnya, dapat tiga atau empat orang ma’mum saja sudah untung perharinya.

Ustadz bujangan ini merenung sendirian di kamarnya yg sederhana yg disediakan di bagian samping masjid.
Rasanya sia-sia saja adzan-nya yg nyaring merdu itu. Rasanya sia-sia saja ilmu yg didapatnya dari pesantren dulu. Rasanya sia-sia saja usahanya mengundang asatidz tamu untuk menjadi khatib jum’at.

….tidak ada yg sia-sia sesuatu yg diusahakan di jalan Allâh….

Demikian hatinya menasehati. Bisikan yg tetap menjaga semangatnya dari hari ke hari.
Sampai kapan?

Iklan