Tag Archive: tulisan


INDONESIANA

Imagine…!
(in random order)

Ke mini market… pulang bawa permen sebagai kembalian!
Bikin SIM, KTP, dll… enakan nembak!
Ditilang… salam damai!
Rumah sakit… miskin dilarang sakit!
Salah lewat… digaplok satpam!
Sekolah… tawuran!
Naik motor… naik trotoar!
Trotoar… milik pedagang kaki lima!
Angkot… a.k.a. preman jalanan!
Preman… jadi politikus!
Jalanan… lobang… lobang… lobang!
Dokter… sibuk balik modal!
Jodoh, rezeki, dll… ke mama Lauren, Joko Bodo, dll!
Internet… klik porno dot com!
Acara TV… made in hollywood!

WC umum… tutup hidung dan mata!
Lampu merah… aba-aba balapan!
Tembok… graffiti!
Baso… borax!
Susu bayi… racun bayi!
Ibu-ibu… ngerumpi!
Bapak-bapak… dirumpi!
Musim hujan… berenang!
Musim panas… blangwir!
Masjid… kosssong………….

(silakan tambah sendiri….)

…and that’s (not) the end…

Iklan

ALLAH vs ALLOH!

Provokatif?
Gimana kalau judulnya saya ganti dgn:

“MANA YG BENAR, ALLAH ATAU ALLOH?”

Wah lebih provokatif lagi!
Apalagi kalau judulnya sudah sampai menyebut siapa pemenangnya. Misalnya begini:

YANG BENAR ALLAH, BUKAN ALLOH!

Hmmm… dijamin pasukan bloggers Islam & Kristen akan ber-bondong2 datang ke sini, ke blog yg adem-ayem ini, untuk perang mulut!

Sorry, saya mengecewakan para provokator! Sebab tulisan ini hanya membahas cara penulisan lafadz Jalalah (4JJI) dalam islam(maaf ngetiknya pake hp,jadi ga ada karakter huruf arabnya. Terpaksa pake yg umum kita pake waktu sms-an: angka 4, huruf J besar dua kali,bahkan ada yg pake W, trus I. Hasilnya mirifp lafadz jalalah!).

…..pasukan bubar…..

So, mana yg ‘benar’?
Sebetulnya pemerintah sudah memberi pedoman transliterasi Arab-Latin melalui Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K, Nomor: 158 Tahun 1987 – Nomor: 0543 b/u/1987. Tapi kayaknya kurang disosialisasikan.

Menurut pedoman tersebut, penulisan latin yg benar adalah Allah bukan Alloh. Tetapi sebagian kaum muslimin mungkin ‘risih’ dgn penulisan itu yg sama dgn saudara2 kita yg nasrani (padahal nasrani diluar Indonesia ga pake Allah lho. Tanya kenapa?? Dan pemakaian kata Allah dikalangan nasrani sendiri pun masih diperdebatkan. Sebagian merasa cukup dgn Tuhan (bapa)saja. Mungkin sama alasannya, mereka risih dgn cara penulisan (dan penyebutan) yg serupa dgn saudara muslimnya).
Maka sebagian muslim menulisnya dgn huruf O, Alloh.

Kembali kepada keputusan pemerintah tadi. Sesungguhnya pedoman transliterasi itu sudah sesuai dgn kaidah ilmu tajwid, bahwa fathah atau vokal A terbaca dgn membuka mulut dgn sempurna, bukan dgn memonyongkan mulut. Adapun memonyongkan mulut diwakili dgn tanda dhammah yg menghasilkan vokal U. Sedangkan O, yg juga memonyongkan mulut, tidak diakomodasi dlm bahasa arab.

Lantas dari mana asalnya bunyi O itu? Inilah pentingnya mempelajari ilmu tajwid. Bunyi yg tampaknya seperti O ini sebetulnya adalah bunyi A (fathah) yg menebal. Istilahnya: tafkhim. Gimana teorinya? Yaitu bunyi yg dihasilkan dgn cara mengangkat pangkal lidah, sementara mulut terbuka sempurna, bukan monyong.

Bingung?
Makanya, cari guru ngaji. Talaqqi!
Rasulullâh aja bertalaqqi ke Jibril.

Sebenarnya ada beberapa huruf lagi yg terdengar menebal seperti ini, terutama pada saat fathah. Itulah huruf2 yg terdengar seperti bervokal O ditelinga kita. Contohnya huruf Ra (ingat, bukan Ro). Jadi kita akan tulis misalnya spt ini: ARRAHMÂN, bukan dgn O. Sembari seorang muslim tau membunyikan ‘ra’-nya dgn tebal.

Jadi, singkatnya, bunyi mirip O pada lafadz Allâh adalah disebabkan menebalnya huruf Lam fathah.

Sebenarnya juga ada beberapa ketentuan lain, selain huruf vokal ini. Seperti huruf yg biasa kita tulis ‘tsa’, yg seharusnya ditulis dgn huruf S dgn titik di atasnya. Dan lain-lain.

Tapi yah, namanya juga transliterasi. Yang penting orang ngerti aja. Saya aja masih suka lupa dan bingung. Apalagi ada keterbatasan karakter, terutama di mesin tik (hare gene mesin tik!)atau ponsel. Kecuali tulisan tangan, sudah bisa dipraktekan apa yg diputuskan pemerintah itu.

Met beramal sholeh, saudaraku…

Life!

Love Life

Konon dahulu kala, baginda raja sangat prihatin akan dirinya. Seiring bertambahnya usia, semakin bertanya hatinya tentang dirinya. Untuk apa semua ini. Matanya melihat hampir segala. Telinganya mendengar suara-suara. Mulutnya bertitah. Hatinya berubah-ubah… Lantas, untuk apa semua ini? What is the point!

Cukuplah. Baginda kumpulkan seluruh ahli di negeri. Dari segala disiplin ilmu. Baginda berikan segala fasilitas untuk mereka di tempat peristirahatan pribadi yg asri. Semua hanya untuk satu tugas: rumuskan kehidupan manusia…

Berbilang minggu kemudian, datanglah utusan para ahli membawa hasil. Berekor-ekor keledai
berjejer dihalaman istana, mengangkut tumpukan buku tebal dalam karung. Buku tentang hidup & kehidupan manusia!

“Apa yang kalian harapkan dariku?” sabda sang raja. “Tak bisakah kalian peringkas untukku. Semoga masih ada waktu”.

Maka kembalilah para ahli bekerja siang malam. Memeras otak merumuskan hidup dalam tata tulisan.

Melesat waktu tak terhitung, datanglah utusan kehadapan. Berharap paduka kali ini berkenan. Baginda nanar menatap tumpukan buku di mejanya. Ringkik buruk keledai memang tidak seramai tempo hari.

“Tidakkah kalian lihat ubanku makin bertambah. Kakiku hampir-hampir tak sanggup lagi menopang semangatku… Sederhanakanlah!” titahnya. Tak ada kemarahan pada nadanya. Hanya prihatin. Ataukah putus asa malah?

Lebih keras lagi para ahli bekerja. Hanya kali ini mereka tanggalkan kesombongan ilmunya – ketinggian akalnya. Mereka pakai hatinya. Mereka temukan Rabbnya. Mereka jumpai kehendak-Nya…

Bukan rombongan keledai kali ini. Hanya wajah-wajah puas para pakar menghadap duli tuanku. Kemudian maju seorang di antara mereka. Dengan hikmat menyerahkan ‘tugas’ yg diembankan. Tertegun raja menerima secarik kertas. Hanya selembar kertas kecil… Tertulis di atasnya sebuah judul berhuruf besar indah:

“SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA”

Hanya beberapa kata isi di bawahnya, tertulis sama indahnya:

“Dilahirkan… Bersusah payah… Mati!”

Tak terasa berkaca-kaca mata baginda mewakili hatinya…

Rabbanä, mä khalaqta hädzä bäthilä…