~ WASIAT CINTA UNTUK SILMIKãFFA SUTAN SULAYMAN TERCINTA ~

Maret 12, 2009

Kãffa sayang…..

Cepatlah besar, nak
Lekas susul usia abi yang rapuh ini
Segera tenangkan kegundahan hati abi atas dunia di sekelilingmu ini,
atas gemerlapnya yang sanggup menyilaukan mata hatimu,
atas lenggak-lenggoknya yang coba mempermainkan darah mudamu,
atas rayuannya yang samar memalingkan wajahmu dari wajah-Nya…..

Kaf~kaf, cintaku…..

Berdirilah berlama-lama di tengah malammu nanti
Ajak kawan-kawanmu penyinta malam maksiat itu kalau kau bisa
Tapi jangan terima ajakan mereka untuk meninggalkan malam sucimu itu

Engkau mungkin akan sendirian
Tapi engkau tak akan kesepian
Abi jamin itu…..

Buah hatiku…..

Banyak-banyaklah menangis
Bukan karena dunia keras menghantammu
Tetapi karena PEMILIKnya mengancammu
Nanti saja engkau tertawa saat Dia membelaimu
Nanti saja…
Banyak-banyaklah menangis sekarang…..

Adukan penjaramu itu pada-Nya saja
Bahwa tanganmu melepuh memegang baranya
Bahwa gigimu gemeletuk menahan dinginnya
Adukan hanya pada-Nya saja
Jangan merintih ke siapa-siapa
Abi mohon…..

Kãffa sayang…..

Kau tau cinta kami padamu
Tetapi Pemilikmu tak terbatas kasih sayangnya
Bahkan cinta ini pun Dia yang punya
Cinta ini atas titah-Nya

Burulah rahmat-Nya saja
Kejarlah cinta-Nya saja
Maka kelak kau akan cintai kami semurni-murninya…..

Kaf~kaf sayang…..

Kalaulah abimu ini berpulang lebih dulu,
doamu kutunggu di kuburku
Tolong terangi peraduan abi
Bantu lapangkan kamar abi
Doa sholehmu,
sepenuh cintamu,
atas titah-Nya…..

Selamat berjuang, mujahidku tersayang…..
Doa abi sepenuh cinta,
atas titah-Nya…..


BAGAIMANA KALAU ENGKAU BUKAN SIAPA-SIAPA

Februari 23, 2009

Bagaimana kalau engkau adalah orang gila telanjang bulat yang kulihat pagi tadi?

Matanya liar. Auratnya jijik. Dakinya tebal. Giginya hitam. Rambutnya gimbal. Baunya busuk kemana-kemana…

Masihkah ada sudi orang mengemis pertemanan denganmu? Menjilat sepatumu. Duduk berdua, bertiga, berempat di Cafe denganmu. Tersenyum palsu untuk tanda tanganmu. Mengisi hari-harimu dengan yang kau mau. Memujimu. Memujamu.

Tidakkah pernah engkau terbangun malam. Kemudian menangisi hartamu yang melimpah. Istrimu yang cantik. Suamimu yang gagah. Anak-anakmu yang pandai enak dipandang mata. Meratapi nasibmu yang baik itu…

Tidakkah pernah terlintas di kepalamu semuanya akan meninggalkanmu. Atau ditinggalkan olehmu.
.
.
Oo yaaa, justru itu…
Hidup hanya sekali !! Maka habiskan saja !! Peduli setan dengan Tuhan !! Kenapa tidak Dia gilakan aku seperti orang gila yang katanya kau lihat tadi pagi itu, kemudian waraskan si gila itu !!

.
.
Jangan menantang, sahabatku!
Kali ini engkau berlagak bak Tuhan. Seolah kau tau apa yang terjadi kalau kau jadi dia, dan dia jadi engkau. Tukar sepatu.

Tak pernahkah kau sadar?
Bahwa kisahmu akan segera terlupakan.
Bahwa beberapa saat lagi engkau bukan siapa-siapa…
bukan apa-apa…


S I B U K

Februari 5, 2009

“Barang siapa yang disibukkan oleh al Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku, dan memohon kepada-Ku, niscaya akan Kuberikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Kuberikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allãh daripada seluruh kalam selain-Nya, seperti keutamaan Allãh atas makhluk-Nya.”
(HR. At-turmudzi)

Alhamdulillãh, nulis lagi! Sibuk buangets! Dunia oh dunia :(

Kali ini tetap tentang kejadian umum. Kebetulan saja terjadi di kelasku, yang muridnya ibu-ibu semua. Tau sendiri ibu-ibu khan! Ramai!

Tapi, alhamdulillãh, di kelas kami ramainya positif lho. Karena kami “ngerumpi” Qur’an :)
Seperti biasa, aku suka cerewet menanyakan perihal interaksi harian muridku dgn kitab sucinya.

“Sudah 1 juz hari ini, ibu-ibuku?” tanyaku pada murid-murid tersayang.

Jawabannya beragam. Tapi kesimpulannya: “Aduh, Aa, sibuk banget, belum sempat…” dan seterusnya, dan seterusnya…

Aku biasanya cuma tersenyum maklum. Tidak sibuk cari-cari kesalahan beliau-beliau. Tidak ada niat sama sekali untuk mengintimidasi (serem bgt nih bahasa) mereka. Tapi aku sedang ingin ‘berhitung’.

Oya, harus dipahami dulu, bahwa kelas kami punya motto pembangkit motivasi. Ada tiga, bertahap:

1.Tiada Hari Tanpa Al Qur’an!
2.Satu Hari Satu Juz!
3.Lafalkan, Hafalkan, Amalkan!

Seperti motto blog ini (minus motto kedua).

Dimaksudkan agar di awal-awal, para murid diharapkan setiap hari bergaul dgn al Qur’an, dgn cara membacanya dulu sekemampuan.
Setelah bertambah mahir, sudah selayaknyalah mentargetkan untuk menamatkannya dalam sebulan seperti anjuran Rasulullãh saw. Jadi, kurang lebih 1 juz perharinya.
Kalau ini sudah bisa dan biasa dilakukan, insyãallãh, motto ketiga ‘lafalkan, hafalkan, amalkan’ akan menjadi puncaknya…

Kembali ke alasan klasik di atas: sibuk

Mari berhitung! Bapak-bapak juga boleh ikutan…
Anda sendiri lho, yg tau sesibuk apa harimu–sampai-sampai tega meninggalkan al Qur’an. Jangan-jangan malah sibuk cari alasan sibuk
Yang jelas, dari 24 jam yg Allãh berikan, mustahil kita tidak bisa ‘meluangkan’ waktu untuk kalam-Nya. (padahal ada nasehat agar jangan menjadikan al Qur’an waktu luang lho! Coba baca yang
ini.

Sudah berhitung?
Nah, sekarang renungkan ‘kelakuan unik’ muridku yang satu ini: beliau menunggu mie instan-nya menghangat dengan…tilawah!
“Lumayan, dapat 2 halaman…” gitu katanya.

Oya, hampir lupa, beliau juga sudah lama berhenti nonton sinetron… :)


TURUNLAH… SAPA DHU’AFA… SEMOGA ALLÃH MELEMBUTKAN HATIMU…

Januari 17, 2009

Dari Haritsah bin Wahab ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullãh saw bersabda: “Maukah kamu kuberitahu tentang penghuni surga? Yaitu orang yang lemah dan diremehkan, tetapi kalau dia meminta sesuatu kepada Allãh, tentu dikabulkan. Dan maukah kamu kuberitahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, keras lagi sombong.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai ibu tua tukang cuci baju, apa rasanya ketika kemarin pagi engkau dihardik ibu majikanmu itu. Sakitkah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau umbar tentu engkau dipecat. Makan apa esok?

Wahai ibu majikan yang terhormat, apa rasanya membentak buruh cucimu yang seusia ibumu itu? Legakah hatimu, wahai ibu? Kalau engkau tak umbar tentu tak berkurang rezekimu…

Ketika Bandung lautan sampah tak terangkut dahulu, panjang omelanmu. Tentang sistem pengelolaan yang amburadul. Tentang biaya. Tentang ini dan itu. Boleh-boleh saja… Tapi mana sapamu pada tukang sampahmu setelah badai itu.

Sahabat, mungkin kita terlalu lama di ruang kantor ber-AC. Terlalu asyik dengan perangkat canggih. Terlalu sibuk dengan bahasa akademik njelimet. Sampai-sampai pesuruh kantor lewat pun kita tak acuh. Mereka ngga ngaruh tuh.

Coba luangkan waktu sejenak untuk duduk di samping pengemis tetanggamu itu. Cium bau keringatnya. Perhatikan tekstur kulitnya yang penuh daki. Sambut bahasanya yang sederhana, bahasa orang yang bertahan hidup untuk hari ini.

Insyãallãh melembut hatimu…


PERANG DAN CINTA

Januari 11, 2009

(Oleh Anis Matta)

John Lennon adalah trauma. Lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua, dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60-an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. Maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hyppies. Bahkan ketika Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan: “If God in our side, He’ll stop the next war.”

Sejarah perang moderen adalah mimpi buruk terpanjang umat manusia. Api. Debu. Darah. Air mata. Terlalu mengerikan. Perang moderen jadi tragedi kemanusiaan karena ia lahir dari dendam, keserakahan, megalomania dan kesunyian.

Imperealisme Eropa ke timur adalah riwayat dendam dan keserakahan. Perang dunia pertama dan kedua adalah kisah keserakahan dan megalomania. Napoleon, Hitler dan Mussolini adalah legenda megalomania dan kesunyian: perang adalah cara mereka menyebar kemeranaan mereka. Sebab itu perang moderen adalah brutalisme, sadisme, kanibalisme: saat-saat panjang tanpa kasih, dari orang-orang yang menemukan kepuasan pada tetes-tetes darah dan air mata.

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Kamu suka atau tidak suka. Perang itu niscaya. Bedanya hanya dalam dua hal: siapa musuhmu, dan dengan cara apa kamu melawannya.
Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dasar batinmu yang mendalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebatilan. Angkara murka yang lahir dari kebatilan niscaya melahirkan dendam, keserakahan, megalomania, sadisme, brutalisme dan kanibalisme. Habis itu kesunyian yang panjang: dan darah yang terus mengalir tanpa kasih.

Maka begitu Hitler menyadari kekalahannya, ia bunuh diri. Darahnya dan darah korban-korbannya sama saja: merah! Tapi Khalid justru menangis karena mati di atas kasur: bukan di medan laga! Tapi mengapa revolusi Chili jadi nyanyian Pablo Nerudo? Mengapa Khalid bin Walid mengatakan: “Berjaga pada sebuah malam dingin, di tengah deru peperangan, lebih aku suka daripada berada di sisi seorang gadis di malam pengantin.”? Mengapa Abu Bakar mengatakan: “Carilah kematian agar kamu menemukan kehidupan.”?

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motifmu dan caramu berperang. Tetap ada kekerasan. Darah. Tapi cinta membuatnya jadi agung. Etis. Manusiawi.
Perang–atau revolusi adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini: Tuhan, hidup, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri. Perang bukan kebencian. Maka mereka yang tidak terlibat dalam perang tidak boleh dijadikan korban: anak-anak, orang tua, wanita, tumbuhan, hewan dan lingkungan hidup.
Jika kebutuhan biologismu tersumbat selama perang, kamu bisa jadi sadis. Atau bahkan kanibalis. Maka, prajurit perang–dalam islam–harus kembali ke keluarganya setiap empat bulan: biar jihad jadi lebih dekat kepada cinta, tidak berubah jadi benci.

Perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

***

sumber: majalah Tarbawi